Materi Training Nasional Kepenulisan 2011
Bagi yang membutuhkan materi yang ada selama Training Nasional Kepenulisan 2011, dapat di download lewat link-link berikut :
- 15 Jurus Jitu Membuat Novel – download
- Aziz 2011 – BPSOW – download
- CV Azhar – download
- CV Pipiet Senja – download
- Draft Satu (Buku Heru Basuki Purwanto) – Aziz – download
- Katakan Cinta dengan Aksara – download
- Materi Presentasi UGM – download
- Program BP School of Writing (BPSOW) – download
- Quisioner – download
Dua Tahun Pemerintahan SBY-Boediono, Evalusi kinerja dan waktu yang masih tersisa
(lham Pebrika – Kadiv Aksi dan Propaganda BEM KM FMIPA UGM)
Editor : Amalina Isayturrodliyah
Tepat 20 Oktober 2011 dua tahun SBY-Boediono dengan kabinetnya menahkodai bangsa yang besar ini. Dua tahun yang lalu harapan baru dibangun bangsa ini dengan memberikan kepercayaan penuh kepada pasangan ini untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Setelah menyatakan berpisah dari pasangan sebelumnya JK, SBY tidak kehilangan kepopulerannya, dengan menggaet Boediono sebagai calon wakilnya, pasangan ini hampir unggul disetiap daerah, bahkan ada di provinsi pasangan ini menang mutlak dengan mendapat lebih dari 90% suara dan dengan hasil keseluruhan mencapai angka lebih dari 60 %. Hal ini mengindikasikan bagaimana masih percayanya masyarakat dengan kepemimpinan SBY. Hal ini tidak terlepas dari pencapaian kinerja SBY yang cukup memuaskan pada periode sebelumnya. Para penyeleweng anggaran dibongkar satu persatu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk sebagai wadah dalam menangani masalah korupsi berhasil membongkar kasus mafia anggaran , bahkan Aulia Pohan yang notabenenya adalah besan dari SBY sendiri, tak luput dari penindakan KPK. Dari sektor lain pun masih banyak rakyat yang cukup puas dengan kinerja SBY, hal ini bisa terlihat dari survey yang dilakukan LSI pada akhir-akhir masa pemerintahan SBY tahun 2009 kepuasan terhadap kinerja SBY mencapai angka 80%. nama SBY juga cukup melambung dengan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan program PNPM Mandiri yang langsung menyentuh rakyat bawah, disamping SBY memang seorang yang berwibawa dan memliki karakter yang kuat
Pada periode selanjutnya dengan mengusung kabinet Indonesia bersatu Jilid II, SBY seolah mulai kehilangan gaya kepemimpinannya yang terlihat lamban serta stegmen-stegmen-nya yang cenderung “curhat” seolah-olah mulai melunturi paradigma baik yang telah terbangun selama ini. Puncak gagalnya pemerintahan SBY dalam menyelesaikan permasalahan Century yang menyebabkan kerugian negara mencapai 6,7 Triliun, mulai membuka katup-katup masalah korupsi yang telah mendarah daging di negeri ini, Gayus Tambunan dan yang terakhir kasus Nazarudin adalah bagian dari drama panggung korupsi yang dipertontonkan kepada rakyat. Pemberantasan korupsi yang diusung ketika kampanye dengan slogan “katakan tidak pada korupsi” seolah-olah hanya tinggal slogan, apalagi banyak dari yang terindikasi kasus korupsi, adalah orang-orang dekat bahkan orang kepercayaan SBY sendiri. Belum lagi masalah internal yang terjadi di partai tempat SBY bernaung menyebabkan ketidakpercayaan dan ketidakpuasan semakin meningkat atas kinerja pemerintahan SBY-Boediono. Disektor lain-pun hampir semuanya mengalami penurunan, biaya untuk mengakses pendidikan semakin mahal khususnya perguruan tinggi serta realisasi 20% APBN yang disediakan untuk pendidikan masih belum terealisasi dengan maksimal. Tingkat kemiskinan yang semakin bertambah dan tingkat kesejahteraan yang semakin menurun, kedaulatan NKRI yang dilecehkan, konflik sara dan terorisme yang semakin sulit dihentikan dan permasalahan keamanan TKI di luar negri yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data Migrant Care terdapat 5.336 kasus kekerasan terhadap TKI selama 2010., dengan puncaknya dipancungnya seorang TKW dari Indonesia, Ruyati, adalah sebagian dari rapor merah pemerintahan SBY-Boediono.dari survei yang dilakukan oleh LSI yang dilakukan tercatat bahwa kepuasan atas SBY-Boediono mencapai angka 33,7 % dimana pada 100 hari pemerintahan SBY-Boediono masih berada diangka 52,34% (LSI)
Reshuffle yang dilakukan menunjukan indikasi bahwa SBY mengakui bahwa pemerintahannya masih belum berhasil.Banyak program-program yang telah dicanangkan belum berjalan sukses atau malah belum terlaksana sama sekali, tapi dari sini bisa diindikasikan bahwa seolah-olah SBY ingin menyampaikan bahwa kegagalan yang dialami pemerintahannya disebabkan oleh belum adanya mentri yang capable untuk menjalankan program-program yang telah dicanangkan, dan yang perlu digaris bawahi adalah reshuffle yang akan dilakukan bersamaan dengan sedang hangat-hangatnya evaluasi atas dua tahun pemerintahan SBY-Boediono, sehingga dari sini bisa tercium indikasi bahwa SBY sedang melakukan pembelaan bahwa kegagalan yang masih terjadi pada pemerintahan bukan sepenuhnya kesalahan dirinya
Dua tahun yang tersisa adalah waktu yang masih relevan untuk memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur kacau, Jika memang reshuffle yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki keadaan adalah hal yang perlu diapresiasi karena rakyat telah bosan dengan keadaan yang ada. Dua tahun yang tersisa adalah masa yang cukup untuk SBY sebagai nahkoda negari ini mencetak suatu sejarah bahwa ia adalah salah seorang pemimpin yang telah membawa bangsa ini kearah harapan baru, harapan bahwa bangsa masih memilki kesempatan untuk maju, Dua tahun yang tersisa adalah waktu yang mungkin bagi seorang SBY bisa meninggalkan suatu karya yang akan menyebabkan namanya dikenang sebagai pahlawan. Kesempatan SBY telah habis untuk melanjtkan jilid III, ataupun jilid IV dinasti kekuasaanya sehingga sudah bukan saatnya SBY masih berorientasi pada pencitraan tapi berfokus pada karya-karya besar bagi bangsa yang besar ini.
VIDI 11 (Visit Media 2011)
p { margin-bottom: 0.08in; }
Pada hari Minggu (16/10), Dept. Humas BEM KM FMIPA UGM , melakukan kunjungan ke salah satu media yang terkenal di UGM, yaitu Balairung Press. Beberapa misi yang ingin dicapai adalah untuk mempelajari lebih dalam tentang jurnalistik dan penerbitan sebuah bulletin, jurnal serta media online.
Briefing dilakukan terlebih dahulu di selasar MIPA Utara. Nah, hal yang membuat perjalanan ini berbeda adalah perjalanan dilakukan dengan mengendarai sepeda fakultas MIPA. Selain untuk melakukan penghematan bahan bakar fosil, namun hal ini juga dilakukan untuk memperkenalkan adanya sepeda fakultas MIPA kepada civitas akademika UGM dan masyarakat sekitar. Praktis, acara ini semakin meningkatkan keakraban antar sesama anggota.
Sesampainya di Balairung, kami disambut oleh Mbak Ayu, yang merupakan editor Balairung, dan dibawa menuju ruang baca Balairung. Di ruang inilah, kami melakukan diskusi dan tanya jawab seputar jurnalistik. Dari diskusi dan tanya jawab tersebut, kami mendapatkan berbagai macam pencerahan dalam pembuatan buletin atau majalah, antara lain cara-cara penentuan tema, penulisan artikel, editing, desain halaman, dan pencetakan.
Dalam penentuan tema, dilakukan beberapa hal, yaitu ide tema dan eksekusi tema. Sebelum mendapatkan tema yang diinginkan, terlebih dahulu kita memberikan ide-ide tema yang akan diangkat. Sebelum tema dieksekusi, dilakukan survey lapangan mencari tema yang tepat. Setelah itu barulah tema dieksekusi. Setelah didapatkan temanya, barulah artikel dibuat. Setelah itu, dilakukan editing terhadap tulisan dan penggunaan kata.
Setelah tema didapatkan dan pembuatan artikel berlangsung, dilakukan desain layout agar sesuai dengan tema yang diangkat. Selain mendesain layout, diperlukan juga pembuatan ilustrasi atau foto yang sesuai dengan artikel. Memilih software yang tepat dalam mendesain layout adalah hal yang penting agar tidak terjadi kesalahan cetak.
Jika semua proses sudah selesai, yang terakhir dilakukan adalah mencetaknya. Kami juga mendapatkan berbagai tips dalam melakukan pencetakan, di antaranya adalah jenis kertas yang digunakan agar hasil cetakan sesuai dengan yang diinginkan. Pembuatan film juga bisa dilakukan. Selain berguna sebagai arsip, film tersebut juga bisa digunakan untuk mencetak ulang buletin atau majalah yang telah kita cetak sebelumnya.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, dan kami harus berpisah dengan Balairung. Sebelum berpisah, kami memberikan sebuah kenang-kenangan kepada Balairung berupa sebuah plakat, dan diakhiri dengan berfoto bersama di depan markas Balairung. Semoga dengan adanya kunjungan media ini, gelora kepenulisan di FMIPA akan semakin meningkat. BravO MIPA!!! (odhon/humas)










