Category Archives: Tak Berkategori

  • 0

  • 0

Open Recruitment BEM KM FMIPA UGM 2017

Category : Tak Berkategori

 

“Dunia ini hancur bukan karena terlalu banyak orang jahat, tapi karena terlalu banyak orang baik yang diam” -Anonymous-

Bagaimana denganmu? Iya kamu! GAMAMI hebat penerus bangsa
Apakah kamu salah satu orang baik yang hanya terdiam? Ayo bergerak!
Bersama kami BEM KM FMIPA UGM 👊

Cukup isi link pendafatarn di
http://bit.ly/beraningeBEM

Masih bingung? Masih ragu? Tenaaang dateng aja di 🎉Open House BEM KM FMIPA UGM 🎉
📆 : Rabu, 16 Agustus 2017
⏰ : 16.00-20.00
🏫 : selasar ged. C

Sudah siap jadi agen perubahan???
Kami tunggu kontribusimu untuk MIPA!


  • 0

[KRONOLOGI] Pesta Rakyat Gadjah Mada 2 Mei 2016 (Hardiknas)

Category : Tak Berkategori

Rentetan peristiwa tanggal 2 Mei 2016 ini dimulai pukul 08:30 ketika massa dari Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) berkumpul di depan Sekre BEM KM FMIPA UGM, kemudian berangkat dan berhenti seraya menunggu massa dari Fakultas Biologi bergabung. Tidak lama setelah massa dari Fakultas Biologi bergabung, datang massa dari Fakultas Teknik. Pada pukul 08:45, massa dari tiga fakultas tersebut berangkat menuju Kluster Medika hingga kemudian massa dari Fakultas Kedokteran ikut bergabung. Seluruh massa Aksi dari keempat fakultas tersebut berjalan bersama menuju Sekolah Vokasi.

Pukul 09:00 seluruh massa yang telah berkumpul di Sekolah Vokasi berangkat menuju GSP melewati Jalan sebelah utara BNI cabang UGM. Massa kemudian berhenti sebentar di depan DSSDI (Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi) guna menselaraskan yel-yel yang nantinya dinyanyikan di depan Gedung Rektorat.

Massa kembali bergerak hingga di Barat Fakultas ISIPOL dan bergabung dengan Kluster Sosial-Humaniora. Ada beberapa mahasiswa yang menyulut semangat massa dengan orasi seraya menunggu Upacara Peringatan Hardiknas selesai, yang turut mengundang mahasiswa berprestasi pada acara tersebut. “Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap berbagai masalah di UGM” kata salah satu orator. Beberapa saat kemudian, upacara selesai sehingga massa langsung bergerak menuju utara Gedung Rektorat.

Tim negosiator langsung bernegosiasi dengan pihak rektorat di dalam Gedung Rektorat setibanya massa Aksi di depan Gedung Rektorat. Beberapa massa berinisiatif melepaskan banner yang terpasang di lantai 2 dan diganti dengan spanduk serta poster berisi tulisan-tulisan yang telah dipersiapkan oleh para massa Aksi, antara lain; “Revolusi Pendidikan”, “Selamat Datang di Kampus Universitas Gudang Masalah”, “Save Bonbin Tolak Relokasi”, “Judicial Review PTN BH”, “AADC? Ada Apa Dengan Corita?”. Kemudian, tenda di depan Gedung Rektrat dipindah bersama-sama oleh beberapa orang ke sebelah barat lapangan Gedung Rektorat. Fatah Yusi dari Fakultas ISIPOL berusaha mengkondisikan massa dengan sindiran konyolnya yang menohok rektorat, kemudian mempersilakan beberapa perwakilan yang telah dipersiapkan untuk melakukan orasi.

Salah satu perwakilan mahasiswa yang berasal dari FISIPOL, berorasi mengenai beberapa ‘kebijakan’ pihak UGM tentang UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang dirasa tidak bijak dan tidak sesuai bagi mahasiswa. Orasi berikutnya datang dari salah satu perwakilan dari Tendik (Tenaga Pendidikan), serta menyerahkan 2 banner berisi tuntutan yang mereka ajukan kepada pihak UGM sendiri. Isi dari orasi Sang Tendik tersebut adalah menuntut pencairan tunjangan kinerja total 20 bulan yang tertahan. Ia juga menyayangkan keputusan rektorat yang hanya menyetujui pencairan tunjangan kinerja tersebut 2 bulan saja. Beliau juga meminta dukungan mahasiswa apabila ada dari Tendik yang mengikuti Aksi hari ini, tiba-tiba dimutasi oleh Pihak UGM. Setelah Tendik berorasi, giliran salah satu perwakilan dari Pedagang Kantin Bonbin mencurahkan uneg-uneg mereka terkait Relokasi Kantin. Waktu berjalan kembali, pukul 11.00 Fatah Yusi memanggil salah satu mahasiswa Sekolah Vokasi bernama Ragil yang sebelumnya menyatakan bahwa orang tua nya dengan terpaksa telah menjual rumah mereka demi membayar UKT. Sangat disayangkan, ia tidak muncul.

Setelah lama menunggu seraya beryel-yel ria, datanglah negosiator membawa hasil negosiasi. Hasil negosiasi dengan pihak rektorat ialah bahwa Bu Rektor Dwikorita Karnawati hanya akan menyatakan pernyataan kepada massa Aksi menggunakan microphone dari selasar Gedung Rektorat, bukan di depan Gedung Rektorat menemui massa Aksi secara langsung seperti yang mereka inginkan. Saat Bu Rektor mulai berbicara mengenai UKT, massa tidak mau mendengarkan karena berharap beliau berbicara seraya menampakkan mukanya.

Saat ditanya mengenai Aksi hari itu, Bu Rektor menjawab “Ke depan mereka ini kan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin DPR, MPR, presiden, menteri. Jadi harus dilatih sejak awal, nah cara latihannya seperti ini. UGM sebagai wahana untuk training, melatih cara berpolitik praktis”. Pihak massa Aksi yang diwakili oleh Humas Aksi, Umar Abdul Aziz kemudian menyakatan “Kami tidak tau, apa yang menjadi dasar rektorat mengatakan ini adalah gladi atau simulasi”. Karena beliau tetap bersikeras pada pendirianya, ada salah satu mahasiswa berbandu merah yang diketahui bernama Joko Susilo dari Fakutas Ilmu Budaya sampai bersujud dihadapannya memohon beliau menemui massa Aksi, beliau kemudian berkata“ Mari kita berdzikir bersama biar hati tenang. Astagfirullahaladzimm”. Berbagai dzikir yng diucapkan oleh Sang Rektor kemudian dibalas oleh massa Aksi dengan mengucapkan “Laailahailallah! Laailahailallah! Laailahailallah!” seraya ada yang menggotong replika keranda mayat berbalut kain hitam bertuliskan “NURANI REKTORAT.”

Beberapa massa berinisiatif untuk menurunkan bendera merah-putih sampai bendera dalam keadaan setengah tiang sebagai tanda berkabung atas pendidikan di UGM yang mengalami berbagai permasalahan. Walaupun telah diminta sedemikian rupa, walaupun massa Aksi telah menunggu selama kurang lebih 2 jam sambil berpanas-panas ria, Sang Ibu dan jajaranya sepertinya lebih senang berbicara di dalam Gedung Rektorat yang dingin dan nyaman. Kata-kata “Ini kan udah selesai. Sekarang kan latihan” merupakan bukti bahwa Sang Rektor masih menganggap Aksi ini sebagai simulasi sebagaimana yang ia sampaikan di Swaragama.fm pada tanggal 1 Mei 2016, yang pada faktanya, Aksi hari itu bukanlah sekedar simulasi. Pembalikan fakta akan Aksi ini terus menyulut keinginan para mahasiswa, pedagang Bonbin, dan Tenaga Pendidik untuk bertemu dengan Sang Rektor.

Akhirnya Prof.Iwan selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan keluar ke depan gedung. Ketika M Ali Zaenal Abidin, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM menggunakan microphone untuk menyampaikan berbagai hal ke massa Aksi, Prof Iwan berlagak ingin meminta microphone tersebut, akan tetapi tidak diindahkan oleh Ali. Akhirnya Pihak Rektorat mengambil microphone yang lain.

Ia menyampaikan beberapa hal, antara lain :
1. Rektor akan menyampaikan 3 statement tentang UKT, Bonbin, dan Tukin.
2. Mahasiswa menyampaikan 3 pertanyaan yang akan dijawab oleh pihak Rektorat, yaitu Rektor dan wakil rektor.
3. Mahasiswa diminta diskusi dengan rektorat melalui perwakilannya.

Pada poin pertama, massa Aksi setuju dengan pernyataan dari Prof.Iwan akan tetapi, pada poin kedua dan ketiga massa Aksi tidak setuju. Saat membacakan 3 pernyataan di atas terdapat scene ketika salah satu mahasiswa memberi caping kepada beliau akan tetapi ditolak. Terdapat juga scene salah satu mahasiswa memayungi beliau dengan payung berwarna merah muda selama pernyataan tersebut disampaikan. Hal-hal kecil diatas seakan memberi rasa geli tersendiri terhadap banyak massa Aksi.

Saat massa menyatakan penolakan perjanjian karena memang tidak puas dengan apa yang diinginkan, Prof Iwan berkata “Berarti kalian tidak percaya pada Ali sebagai negosiator kalian?” dan beliau meminta negosiasi ulang dengan negosiator yang berbeda. Ali kemudian berkata “Jangan mau diadu-domba.” Akan tetapi hal tersebut dirasa sangat tidak memuaskan keinginan massa. Massa berharap untuk bertemu langsung dengan Rektor UGM dan berdiskusi langsung dengan mereka di depan gedung. “Kita disini hingga Rektor menyepakati tuntutan kita, sepakat?” Teriak sang orator. “Sepakat!” Jawab seluruh massa Aksi. Setelah itu, Prof.Iwan masuk kembali ke gedung. Sehingga, keadaan massa Aksi masih menunggu dibawah terik matahari pun berlanjut kembali.

Pemimpin Aksi memutuskan untuk mengistirahatkan massa terlebih dahulu. Saat istirahat tersebut, dimanfaatkkan oleh beberapa massa Aksi mempersiapkan panggung Pesta Rakyat di selasar Gedung Rektorat. Massa juga telah disediakan fasilitas oleh UKM Kerohanian Islam Jamaah Salahudin (JS) agar dapat menunaikan sholat Dzuhur di selasar tersebut. Massa Aksi juga telah disediakan Tenda Medis bagi yang merasa tidak sehat dan haus yang didirikan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran di bagian timur gedung.

Sesi istirahat yang dimulai pukul 12:30 hingga 13:30. Massa Aksi berangsur mulai kembali ke area Aksi di selasar gedung Rektorat. Di sana, massa Aksi disambut dengan beberapa penampilan seperti drama komedi, puisi, nyinden, ceramah, dan stand up comedy. Penampilan-penampilan yang disajikan atas inisiasi dari para mahasiswa ini dilakukanuntuk memeriahkan PESTA RAKYAT yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Rektorat atas berbagai permasalahan yang terjadi di UGM.

Massa keluar dari selasar ke lapangan karena syarat dari Ibu Rektor yang menyatakan bahwa beliau tidak akan turun jika masih ada satu mahasiswa yang ada di selasar gedung. Pukul 14:50, Ibu Rektor beserta jajarnya akhirnya keluar dari kantornya melalui pintu barat dan langsung menuju ke tengah lapangan yang dipenuhi oleh atribut Aksi. Beliau beserta jajarannya langsung menaikkan Bendera Merah Putih kembali ke atas tiang yang sebelumnya diatur berkibar setengah tiang oleh massa Aksi seraya mengajak massa Aksi menyanyikan Lagu Indonesia Raya sambil berlagak bagai dirijen. Seperti yang dapat diperkirakan, tidak ada satupun massa Aksi yang mau menyanyikanya. Ketika Rektor berjalan kembali menuju depan Gedung Rektorat, massa cepat-cepat menghentikan beliau sambil ada beberapa massa yang menurunkan lagi bendera merah-putih sehingga menjadi setengah tiang lagi. Massa juga menyerukan

“Siapa yang bilang ini simulasi Aksi,
Siapa yang bialng ini simulasi Aksi,
Yang bilang ini ini simulasi Aksi,
Itu orang yang ga punya hati“.

Sekitar pukul 15:00 setelah sebelumnya terhadang massa, Rektor dan jajaranya berhasil menempatkan diri di tengah massa Aksi di depan gedung. Salah satu Humas ‘simulasi’ Aksi kemudian membacakan tuntutan yang ditanggapi oleh Bu Rektor sebegai berikut:

1. Pada tanggal 28 April 2016, UGM telah mengadakan rapat dan memutuskan bahwa UKT tahun 2016 akan sama seperti tahun lalu.
2. Pada tanggal 26 April UGM mengadakan rapat DIKTI. Pada tanggal 28 April 2016, UGM mengadakan pertemuan dengan Tenaga Pendidik bahwa agar tunjangan kinerja dapat diperjuangkan, peraturan harus diubah terlebih dahulu agar tidak dianggap ilegal.
3. Bulan Juli tahun lalu kontrak pedagang Kantin Bonbin selesai, sehingga setelah itu para pedagang yang berdagang di sana termasuk tindakan ilegal.

Ini pernyataan tepat dan lengkapnya :

“Diskusi berkali-kali. Kamis, 28 April keputusan berdasarkan seluruh pasukan civitas akademik dan mahasiswa UKT tetap.””Berdasar rapat dikti, 26 April sudah disosialisasikan. Tanggal 28 April mengundang pendidik bahwa tunjangan kinerja di perjuangkan dengan mengubah peraturannya.” “Terimakasih adik-adik yang saya cintai, diskusi dialog yang berkali-kali dilakukan sejak februari ini telah memutuskan pada kmis 28 April, UKT berdasarkan seluruh masukan dari civitas akademika terutama mahasiswa dan dekanat, yaitu UKT kita tetap seperti tahun lalu. Untuk tenaga kependidikan, berdasarkan rapat dikti 26 April sudah disosialisasikan. Kami sampaikan kepada mas-mas tenaga kependidikan tanggal 28 April mengundang para tenaga kependidikan dan sampaikan bahwa tunjangan kinerja tetap diperjuangkan dengan cara mengubah peraturannya, kalau tidak diubah maka melanggar aturan negara untuk menurunkan tunjangan kinerja” “Yang terakhir tentang kantin. Maaf jangan dikatakan bonbin. Kita sudah berdoalog sejak tahun lalu. Dikala kontrak kantin sudah berlalu. Artinya sejak juli sudah ilegal. Melanggar rasa kemanusiaan.”

Saat statement “kami mengijinkan mereka masih berdagang atas dasar KEMANUSIAAN”, ada salah satu mahasiswa yang melakukan hal yang dianggap kelewatan dan banyak dari massa yang merasa bahwa alasan tersebut terlalu ‘simpatik’ sehingga mereka berseru “Huuu” dan saat mendengar kata ‘ilegal’, massa serempak membalikkan badan membelakangi Jajaran Rektorat.Sang Rektor yang merasa tidak dihargai, microphone berpindah tangan ke ibu-ibu yang berada disampingnya yang kemudian ia berkata “Nggak sopan!” dengan raut muka kesal.Bu Rektor beserta jajarannya berbalik badan dan meninggalkan massa Aksi kemudian mengunci diri di ruangannya dan tidak mau menemui massa Aksi.

Karena dianggap penjelasan yang diberikan belum selesai, massa Aksi geram kemudian berbondong-bondong ikut masuk ke Gedung Rektorat seraya menyanyikan lagu perjuangan. Hanya 5 mahasiswa yang berhasil bergerak hinggal lantai 2 Gedung Rektorat dikarenakan tangga akses menuju ke lantai 2 diblokade oleh SKKK.
Sembari menunggu Rektor menemui kembali massa Aksi, berlangsung konferensi pers berkenaan dengan keterangan ibu rektor kemarin dan penyuaraan tuntutan hari ini.Para penggerak Aksi meminta massa beryel-yel dan menghimbau untuk meninggalkan embel-embel golongan, organisasi, serta pandangan politiknya dengan tujuan “Tunjukkan bahwa kita disini bersama-sama, kita bukan mengatasnamakan suatu golongan tertentu akan tetapi kita disini mengatasnamakan RAKYAT. Kita bukan pengemis, kita hanya menuntut apa yang menjadi hak kita dipenuhi”.

Orator di depan juga menginstruksiakan kepada masa Aksi untuk memfoto dan membuat caption yang relevan terkait Aksi masa yang sedang terjadi. Hal ini tidak lain untuk mengundang masa Aksi yang lebih banyak lagi, serta mencoba membuat framing yang lebih berimbang tentang pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Nyatanya ini efektif karena semakin sore masa Aksi semakin banyak. Hashtag seperti #bUKTicinta #inibukansimulasi #pestarakyat malang-melintang menghiasi berbagai sosial media.

Pada pukul 16:30 Hingga pada sore hari ini mahasiswa tetap enggan untuk mengangkatkan kakinya dari Gedung Rektorat. Berbagai cara telah dilakukan para mahasiswa untuk membujuk Ibu Dwikorita keluar dari ruangannya setelah tadi sempat beranjak dari kursi nyamannya. Mahasiswa masih terbakar semangatnya dan tak gentar untuk tetap menunggu Ibu Pemimpin “Simulasi” menemui mahasiswa walau aparat sudah berjaga-jaga sejak lama.

Sekitar pukul 5 sore, Ibu Rektor beserta jajarannya akhirnya mau keluar lagi setelah negosiasi ulang. Mereka duduk di tangga depan Gedung Rektorat. Massa sebelumnya sudah diminta oleh Mas Ali untuk berjanji bahwa massa akan mendengarkan perkataan Bu Rektor sampai selesai dan tidak akan menyela. Persyratan itu kemudian disetujui oleh massa Aksi. Tuntutan kepada Rektorat kemudian dibacakan oleh Umar Abdul Aziz secara beruntut.

Pertama, dibacakan tuntutan terkait Uang Kuliah Tunggal dan Bu Rektor diminta langsung menjawab. Akan tetapi karena dirasa Bu Rektor melewati beberapa poin dari tuntutan, maka tuntutan yang dilewati tadi dibacakan kembali. Begitu terus sampai semua tuntutan yang terkait dengan UKT disanggupi oleh Bu Rektor.

Kedua, dibacakan tuntutan terkait Tunjangan Kinerja Tenaga Pendidikan yang juga langsung dijawab oleh Bu Rektor atas permintaan massa Aksi. Akan tetapi, mahasiswa belum puas dengan jawaban beliau karena dalam pernyataan beliau terdapat sebuah statement yang perlu digarisbawahi yaitu bahwa tunjangan yang akan dibayar adalah sebanyak 2 bulan dikarenakan dalam prosesnya sudah berganti peraturan yang mengatur tentang Tukin tersebut.

Ketiga, dibacakan tuntutan terkait Relokasi Kantin Sos-Hum (Bonbin). Bu Rektor langsung menjawab. Sampai sekarang ini masih baik-baik saja situasinya. Sampai ada sebuah statement yang memancing salah satu massa berucap “mahasiswa yang mana?” yaitu saat statement bahwa pihak Rektorat sudah sering melakukan berbagai pertemuan yang membahas tentang Bonbin dengan pihak pedagang juga tak lupa dari mahasiswa dilontarkan.
Inilah kalimat tepat dan lengkapnya dari jawaban Rektor : 1. “Kenaikan UKT: 28 april rektor bersama pimpinan fakultas dan beberapa komponen termasuk mahasiswa telah sepakat UKT tahun ini tetap.” – Bu Dwikorita 2.

“Penurunan UKT: Para dekan sudah sepakat waktu 28 april itu bagi tidak pas bisa mengusulkan penurunan ukt dan tahun lalu sudah ada yang diturunkan. Penurunan tergantung pada kondisi mahasiswa, baik penurunan secara temporal maupun permanen” – Bu Dwi “PPA akan ada ketentuan baru bahawa semua PTN tidak lagi menerima PPA” – Pak Iwan 3. “Mengenai Tukin: Dalam arapat dan koordinasi semua perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang melibatkan kementerian pada 26 April yg lalu telah diusulkan adanya perubahan peraturan pemerintah. Kita sedang berjuang bersama dengan PTNBH yang lain untuk merevisi PP agar PTNBH memperoleh untuk menerima tunjangan kinerja karena klo aturannya di revisi, saya melanggar.”

Bu Rektor ditanya kembali mengenai tuntutan pencabutan Surat Perintah 2 dan soal klarifikasi bahwa hari ini adalah AKSI bukan simulasi Aksi, Rektor UGM enggan minta maaf atas pernyataannya yang menyebut Aksi hari ini hanyalah simulasi. “Terimakasih banyak ya, sudah bersabar, nah sekarang selamat beristirahat keluarga menunggu dirumah,” ungkapnya saat menanggapi tuntutan minta maaf itu.Rektor yang akan meninggalkan lokasi Aksi diteriaki, ‘jangan kabur-jangan kabur.’ Mahasiswa mengejar Rektor hingga halaman tengah kompleks Balairung. Mahasiswa terus mengepung bahkan membuat barikade agar Rektor tidak pergi.

Rektor UGM sebenarnya sudah akan masuk ke mobil. Massa mereda saat Rektor berhasil diberhentikan dan mau melanjutkan dialog. ‘Diskusi’ pun berlanjut, mahasiswa meminta klarifikasi dari Bu Rektor mengenai pernyataan “simulasi Aksi”.

Rektor : “Sebagai orang yang lama bergelut dalam penanganan bencana, saya paham bahwa semua hal perlu geladi. Demo kali ini disebutnya sebagai persiapan dalam kehidupan berdemokrasi membangun negeri. Saya udah pengalaman dalam mengurus bencana alam. Ini jadi latihan bagi kita semua baik itu pimpinan universitas, SKK dan tak terkecuali kalian” (Sebetulnya kalimat yang dikatakan banyak, akan tetapi jawabannya intinya sama, ga sesuai harapan).

Umar : “Ibu pasti bisa membedakan mana latihan evakuasi bencana dan evakuasi beneran. Begitu juga Aksi ini Ibu juga pasti bisa membedakan. Apakah Ibu tidak mau cabut pernyataan? Apa ibu tidak menyesal?”

Rektor: “Sudahlah ini jadi latihan bagi kita semua. Mari kita saling ikhlas. Kalian ga perlu minta maaf ke saya, mari kita saling memaafkan”. (emang kami minta maaf? Kan kami ga salah. Yg salah kan cuma rektorat)

Pernyataan tersebut membuat mahasiswa kembali memanas.Petugas keamanan kampus, langsung mengevakuasi Rektor naik ke lantai atas kompleks Balairung. Mahasiswa terus berteriak, ‘jangan kabur.’ Saat naik ke lantai atas dan banyak mahasiswa yang tetap mengejar naik. Sementara yang lain berada di bawah.Setelah itu, mahasiswa kembali ke depan gedung dan memberi penerangan seadanya dengan menyalakan lampu minyak.Sebetulnya Aksi belum selesai, akan tetapi massa menganggap hasil yang didapat cukup memuaskan.Kemudian, Rektor beserta jajarannya meninggalkan gedung diiringi dengan lagu Sayonara oleh mahasiswa.


  • 0

RELEASE KAJIAN BBM TURUNNYA HARGA BBM DAN PENGARUHNYA BAGI HARGA SEMBAKO DAN BIAYA TRANSPORTASI DI WILAYAH DIY YOGYAKARTA

Pemerintah kembali menurunkan harga BBM nonsubsidi terhitung mulai 1 April 2016. Dilansir melalui situs resmi Pertamina, www.pertamina.com, PT. Pertamina (Persero) menurunkan harga Bahan Bakar Minyak umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Dex, Pertalite, Premium dan Solar.

Penurunan harga meliputi Pertamax yang semula Rp7.750 per liter turun menjadi Rp7.550 per liter, Pertamax Plus turun dari Rp 8.650 per liter menjadi Rp 8.450 per liter, Pertalite turun dari harga Rp7.300 per liter, menjadi Rp7.100 per liter, Premium turun dari harga Rp 6.950 per liter menjadi Rp 6450 per liter, serta Solar mengalami penurunan dari Rp 5.650 menjadi Rp 5.150 per liter. Pada produk diesel berkualitas tinggi, yakni Pertamina Dex turut mengalami penurunan harga dari semula Rp8.600 per liter menjadi  Rp 8.400 per liter. Solar/Biosolar non subsidi mengalami penurunan dari  Rp7.150 liter menjadi Rp 6.950 per liternya. Penurunan ini terjadi akibat tren harga minyak dunia yang sebelumnya mengalami penurunan hingga sekitar US$30 per barrel pada awal tahun 2016 ini.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan sedikit lebih tinggi akibat dari pelemahan nilai tukar dollar terhadap rupiah. Pada tanggal 12 April 2016 harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), naik menjadi di US$41,45 per barrel di New York Mercantile Exchange (NYMEX), sementara minyak mentah acuan Brent naik menjadi US$44,06 per barrel. Dengan konversi 1 barrel sebesar 158.9873 Liter.

Penurunan Harga BBM dan dampaknya terhadap harga barang di pasar.

Harga BBM yang turun sebesar 500 rupiah untuk bahan-bakar minyak jenis premium dan solar diharapkan dapat ikut menurunkan harga-harga. Harga barang-barang pokok, harga biaya transportasi, logistik, dan kebutuhan barang untuk meningkatkan daya beli dari masyarakat di Indonesia. Namun hingga saat ini harga barang cenderung dalam posisi stagnan (tidak mengalami perubahan). Kepala Seksi Pengembangan Perdagangan Dalam dan Luar Negeri Disperindagkop Bantul Zanita Sri Andanawati mengatakan, harga sembako tidak banyak terpengaruh oleh naik turunnya harga BBM, turunnya harga sembako lebih sering disebabkan oleh pengaruh faktor cuaca, hasil panen dan ketersediaan barang di pasar. Kondisi cuaca merupakan faktor yang memiliki dampak terbesar karena baik buruknya kualitas panen, yang berpengaruh pada jumlah bahan pokok dan ketersediaan bahan pangan yang berhasil dipanen. Kebutuhan terhadap barang cukup tinggi tanpa diiringi dengan ketersediaan barang dapat menyebabkan terjadinya inflasi.

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Bank Indonesia (BI) menyatakan, inflasi Indonesia harus dikendalikan ke level yang sehat. Jika inflasi tidak terkendali maka akan tercipta iklim yang kurang kompetitif sehingga menyebabkan tingkat bunga tidak bisa diturunkan. Untuk itu, BI bersama pemerintah terus berkoordinasi agar harga rendah dan stabil dengan tingkat inflasi terjaga di kisaran 3%-5%.

Hingga tanggal 30 Maret 2016, sehari sebelum kebijakan turunnya harga BBM, Kota Yogyakarta mengalami inflasi sebesar 0,02%. Inflasi yang terjadi pada bulan Maret lalu disebabkan karena adanya kenaikan harga-harga, kelompok bahan makanan naik 0,67%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau naik 0,18%;kelompok sandang naik 0,58%; dan kelompok kesehatan naik 0,64%. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar turun 0,23%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga turun 0,02%; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,93 persen. Inflasi pada kota DIY termasuk dalam kondisi yang masih normal, karena proses naiknya harga barang cenderung diikuti dengan turunnya harga barang sehingga ada keseimbangan dalam perkembangan harga.

Dampak perubahan harga BBM pada kondisi transportasi

Harga BBM yang turun per 1 April 2016 memberikan pengaruh bagi kondisi transportasi di Indonesia, antara lain biaya bis kota dan besaran biaya tiket kereta api. Penulis telah melakukan survey langsung dampak perubahan harga BBM terhadap besaran biaya transportasi Bus Kota pada tanggal 2 April 2016, saat hendak menuju wilayah Malioboro menggunakan Kopata dari wilayah UGM, penulis tetap ditarik biaya dengan harga normal, yaitu Rp4000 tanpa mengalami penyesuaian besaran tarif. Penulis yang bertanya ke kondektur kemudian mendapatkan respons bahwa memang penurunan harga BBM tidak serta merta mengalami penurunan melainkan secara bertahap.

Pola yang sama juga ditemukan pada perubahan biaya tiket kereta api. Dikutip dari harian republika tanggal 12 April 2016, Kereta Api tipe Ekonomi kembali mendapatkan subsidi Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah. Publik terkadang masih menyalahartikan antara PSO dan Subsidi, meskipun PSO merupakan salah satu bagian dari subsidi, keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Public Service Obligation (PSO) adalah biaya yang harus dikeluarkan Negara akibat disparitas/perbedaan harga pokok penjualan BUMN/Swasta yang ditetapkan oleh pemerintah agar pelayanan produk/jasa tetap terjamin dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat (publik), sementara Subsidi  adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh Negara akibat disparitas/perbedaan harga pasar dengan harga atas produk/jasa tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin. PSO diatur oleh UU RI No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara Pasal 66 ayat 1.

Penurunan ini tertuang pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 35/2016. Dalam permen tersebut, 20 KA Ekonomi bersubsidi jarak jauh dan sedang mengalami penurunan tarif. Kereta Api (KA) yang mengalami penurunan tariff antara lain KA Logawa Jurusan Purwokerto-Jember, KA Serayu jurusan Purwokerto-Pasar Senen, KA Bengawan jurusan Purwosari-Pasar Senen, KA Gaya Baru Malam jurusan Pasar Senen-Surabaya Gubeng, KA Pasundan jurusan Surabaya Gubeng-Kiara Condong, KA Kahuripan jurusan Kiaracondong-Kediri, serta KA Kutojaya Selatan jurusan Kutuarjo-Kiaracondong. Namun perubahan tarif baru mulai berlaku pada 1 Juli 2016 mendatang. Seiring dengan dekatnya waktu libur lebaran 1437 H yang kira-kira jatuh pada tanggal 6 Juli 2016 mendatang.

Kesimpulan

Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan pada level sekitar US$40 per barrel nya dari sebelumnya berada pada kisaran hingga sekitar US$30 per barrel nya. Pemerintah sebagai penentu dan pemangku kebijakan diharapkan untuk ikut berperan menghadapi kenaikan harga minyak mentah dengan menurunkan harga BBM. Harga bahan-bahan pokok, ketersediaan bahan bakar, dan biaya transportasi umum tentu tidak serta merta mengalami penurunan. Namun penurunan harga BBM ini diharapkan menjadi awal dan mampu menurunkan harga barang dan biaya transportasi, sehingga memberikan dampak positif bagi gairah ekonomi bagi masyarakat Indonesia.


  • 0

Corat-Coret tentang ADVOKASI

Category : Advokasi , Tak Berkategori

Setiap orang di dunia pasti mempunyai masalahnya masing – masing dan setiap masalah pasti selalu ada jalan keluar serta penyelesaiannya. Penyelesaian yang kongkrit terkadang mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Manusia adalah penuntut umum yang amatir, seringkali dia tidak puas dan selalu merasa kurang. Apabila tonggak titik temu penyelesaian sudah ada rasanya ada keberpihakan yang kurang terasa. Lalu apakah yang harus kita lakukan, banyak masalah di bumi manusia ini yang semestinya ada feedback untuk menjadi tidak rumit namun menjadi ruwet dan carut marut karena ulah manusia itu sendiri. Ketika ada sebuah pernyataan:

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.”

Maka, disinilah peranan kita, mau tidak mau dan tidak dipungkiri, kita adalah PEMUDA. Bukan hanya faktor usia yang masih muda atau dandanan dan trendnya yang mengikuti arus zaman, tapi harus disadari bahwa kitalah harapan bangsa ini, bangsa Indonesia tercinta. Peranan kita bukan saja sebagai pelaksana dan pelaku pendidikan yang idealis, bukan saja sebagai pengembang modernisasi yang dinamis, namun kitalah agen of change dari bangsa yang sedang dilematis dengan berbagai krisis yang menimpanya ini. Bukan hanya itu kalau mau bercermin lagi kita adalah salah satu aset penduduk bangsa yang paling penting, ini bukan sedang berbangga diri atau merasa “geer”, tapi coba kita berbenah bersama – sama.

Oke, mari melayang …

Sebelum bangsa ini meraih dan meniti kemerdekaan yang memang sampai saat ini belum benar – benar bisa dirasakan secara nyata, tapi apa mau dikata kita memang sudah merdeka tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu, peranan pemuda sudah sangat dirasakan kontribusinya terhadap bangsa, pada tahun 1908 Budi Utomo memulai pergerakan Nasionalnya, pada tahun 1928 Sumpah Pemuda menjemput persatuan dan kesatuannya, lalu hasil nyatanya yaitu 1 hari sebelum Indonesia dinyatakan merdeka, pemuda jugalah yang berperan besar, sampai akhirnya bangsa yang telah lama menempuh berbagai perjuangan ini meraih sebuah kata “MERDEKA”. Tidak sampai disini, merdeka belum tentu tidak ada masalah dalam bangsa yang terus melanda, justru berbagai ujian datang lagi, Indonesia memang negara tertegar di dunia, mari berbanggalah! Setelah merdeka, mungkin bisa dibilang ada part – part sejarah bangsa ini yang konotasinya bisa dibilang mengharukan, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, sampai Reformasi hingga sekarang ini. Reformasi. Whats for???

Mudah memang mengatakan Reformasi, namun nyatanya beribu pemudalah yang memperjuangkan hal ini, bertaruh nyawa bersama – sama mengepung gedung MPR karena kekuasaan yang dirasakan tidak sistematis, kemerdekaan yang ada dihujani dengan ketidakadilan, Pemerintah berjalan secara sepihak, dan apa lagi??? Ketika sekarang reformasi itu sudah ada digenggaman tangan, tetapi masalah pun belum selesai, sistem Pemerintahan seolah menjadikan rakyat sebagai taruhannya. Apa kita akan terus diam atau hanya akan terus belajar mendapat nilai terbaik di kelas, atau malah menghindar *baca: pecundang* ???

Mari merangkai kata, mari menulis, mari bercerita, mari mengubah bangsa, mari memajukan bangsa, dan satu kata untuk semua itu: A-D-V-O-K-A-S-I.

Berbicara tentang advokasi, maka kita berbicara tentang suatu pembelaan, keberpihakan, kepahaman dan keikhlasan. Lalu pada siapa kita akan berpihak??? Yaa, tentu saja pada rakyat . Rakyat pasti akan menang, rakyatlah ikon negara yang menjadi tujuan utama suatu sistem Pemerintahan. Oke, hai advokasi, mari kita terus bersahabat, melekatlah engkau pada setiap insan pemuda bangsa Indonesia ini.

Maka, ketika birokrasi mempertaruhkan sebuah keadilan, disinilah advokasi datang. Malaikat rakyat yang minoritas tapi sangat berintegritas.

Advokasi tidak selalu berkaitan dengan aksi yang mungkin slalu berkonotasi anarkis, tapi advokasi merupakan implementasi suatu idealisme yang mengantarkan pada keberpihakan pada rakyat yang tertindas, rakyat yang seharusnya dapat dijamin kehidupannya oleh negara, rakyat yang kepentingannya tidak tersalurkan, rakyat yang penderitaannya belum berakhir, rakyat yang selama ini menjadi pertaruhan kejayaan bangsa.

Pemuda, jangan hanya bicara, pemuda jangan hanya berkata – kata, pemuda rangkullah rakyat, satukan idealisme, musnahkan ketidakadilan, hilangkan krisis negara, nyatakan kemerdekaan yang sesungguhnya dan jayakan tanah air Indonesia 🙂

-o0o-

Written by: Hasti Unggul Pambudi


  • 0

Menulis Sebagai Bagian dari Pergerakan Mahasiswa

Category : Advokasi , Tak Berkategori

“Jika suaraku hanya getarkan tirani, maka tulisanku bisa hancurkan tirani”

-Anonim-

 

Tulisan sebagai curahan ide-ide kaum intelektual merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia pergerakan. Sejarah perjuangan bangsa ini tak terlepas dari buah pemikiran kaum intelektual zaman dahulu. Buah pemikiran inilah yang disalurkan lewat tulisan yang masih dapat kita kenang betapa hebatnya dampak dari tulisan-tulisan mereka. Contohnya tulisan Abdul Rivai dalam Koran Bintang Timoer, isinya menelanjangi kebusukan kolonialisme Belanda dan muncul sebagai penyokong pergerakan pemuda Indonesia di Belanda, kemudian tulisan Soewardi Suryaningrat dengan tulisannya “Als ik een Nederlander was” yang memprotes niat pemerintah Hindia Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis, selanjutnya novel “Max Havelaar” menceritakan nasib buruk rakyat yang terjajah karya Multatuli atau lebih dikenal dengan Douwes Dekker. Tulisan-tulisan tersebut merupakan kumpulan ide-ide kaum intelektual yang mendorong negeri ini terbebas dari kesewenang-wenangan. Jika kita ambil sisi lain dari tulisan-tulisan tersebut, selain memperjuangkan ide-ide penulis, tulisan juga memberi kehidupan lain bagi penulisnya sekalipun mereka telah tiada sehingga muncullah adagium “Aku menulis, aku berjuang, aku abadi”. Ide-ide mereka yang tersalur dalam tulisan itu sampai sekarang masih kita gunakan sebagai referensi dalam pergerakan.

Krisis Penulis Muda

Dewasa ini, budaya menulis mulai memudar ditelan oleh pragmatisme kehidupan. Mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual muda banyak memilih memfokuskan diri meningkatkan nilai akademik saja daripada menulis tentang isu-isu social masyarakat. Memang kewajiban seorang pelajar/mahasiswa adalah belajar dan meningkatkan kualitas akademik diri. Akan tetapi, mahasiswa merupakan bagian dari kategori masyarakat kelas menengah juga harus ikut memikirkan kehidupan rakyat yang sering disiksa oleh kebijakan-kebijakan orang kelas atas (elit-birokrat). Padahal, tulisan-tulisan kaum intelektual muda inilah sebagai motor penggerak perubahan dan penyalur aspirasi rakyat tertindas. Adapun mahasiswa yang sadar dan peduli akan kondisi ini namun sulit untuk menuangkan ide-ide mereka dalam tulisan. Mahasiswa mulai lupa bahwa gagasan dalam tulisan dalam sejarah dapat menumbangkan rezim pemerintah yang sewenang-wenang. Oleh karena itu, intelektualitas mahasiswa jangan hanya dipendam, tetapi dituangkan dengan tulisan, karena intelektualitas kaum muda memiliki keberanian berpihak kepada kebenaran dan mengandung semangat perubahan dan progresivitas.

 

Menumbuhkan budaya menulis sebagai bagian dalam pergerakan mahasiswa

Dalam perspektif sejarah, tak diragukan lagi bahwa tulisan mempunyai kekuatan yang sangat hebat dalam dinamika social-politik di negara ini. Bukan hanya perang fisik saja yang mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan namun, tulisan-tulisan yang tercipta dari pemikiran kaum intelektual bangsa ini juga ikut menumbangkan kesewenang-wenangan kolonialisme dan imperialisme yang membelenggu negeri ini sejak ratusan tahun sebelumnya. Budaya menulis inilah yang harus dikembangkan sebagai salah satu bentuk perjuangan dalam pergerakan mahasiswa. Menulis pun tidak hanya sekedar menulis. Dalam dunia pergerakan mahasiswa, menulis harus memiliki karakter yang jelas sebagai bagian dari perjuangan dan simbol dari pergerakan. Konsekwensinya, tulisan pergerakan harus kritis, aspiratif dan kontributif.


  • 0

Mengenal dan Merasakan Advokasi

Category : Advokasi , Tak Berkategori

Ditulis Oleh Meisha Ayu Ardini, Kepala Departemen Advokasi BEM KM FMIPA UGM 2012

Dalam kamus hukum, kata advokasi adalah kata kerja dari kata benda advocaat (belanda) yang berarti penasehat hukum, pembela perkara atau pengacara. Advokasi sendiri bisa diartikan sebagai proses pembelaan suatu perkara dalam koridor hukum yang berlaku. Kebanyakan mahasiswa, bila mendengar kata ‘advokasi’ seringnya akan berpikiran kearah tindakan revolusi. Namun bagi seorang aktivis kampus (dalam hal ini, pengadvokasian yang dilakukan oleh sebuah departemen dalam BEM/LEM/DEMA/organisasi kemahasiswaan di kampus) advokasi adalah proses mempengaruhi dan mengubah sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh birokrat tanpa pertimbangan keadilan atas hak manusia lainnya.

Advokasi bukanlah revolusi. Advokasi yang sesungguhnya memuat nilai kepedulian kepada sesama, seorang aktivis advokasi hendaknya memegang sebuah idealisme bahwa sebaik-baiknya advokasi adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika pada suatu titik tertentu, sebuah organisasi yang mengampu fungsi pengabdian dengan sebuah Departemen Advokasi didalamnya sudah mengalami kemandulan dalam memberi manfaat, maka boleh saya sarankan: bubarkan saja organisasi itu.

Hal yang ingin saya bahas disini bukanlah Advokasi Hukum secara mendalam dan detail, karena tidak ada kompetensi dalam hal terkait bagi seorang mahasiswa Jurusan Kimia yang bahkan bertitel sarjana pun masih belum. Saya hanya ingin berbagi sedikit pemahaman dan pengalaman saya menjadi seorang aktivis advokasi selama dua tahun mengenyam pendidikan S-1 di UGM, sebuah kampus (yang katanya) kerakyatan.

Sebuah organisasi kemahasiswaan, sebut saja BEM, didirikan dan sampai saat ini tidak (atau belum) dibubarkan karena diharapkan oleh sebagian mahasiswa lainnya dapat menjalankan fungsi Advokasi secara optimal, jauh mengungguli fungsi Event Organizer, aksi, kajian, dll (Riset BEM KM UGM 2008). Ekspektasi yang berlebihan terhadap fungsi Advokasi sangat terlihat dalam banyaknya pengaduan yang muncul terutama saat penerimaan mahasiswa baru, pengaduan paling banyak menyoal biaya kuliah yang tidak terjangkau, pengaduan mengenai semakin sulitnya akses untuk menjangkau pendidikan berkualitas dengan biaya murah, pengaduan ribetnya birokrasi yang mesti ditempuh untuk mahasiswa miskin, dan lain sebagainya.

Mengapa perlu ada Advokasi?

Gerakan advokasi di UGM lahir dikarenakan keprihatinan mahasiswa melihat semakin menjauhnya UGM dari visi kerakyatannya yang menyebabkan aksesibilitas rakyat untuk menimba ilmu di UGM menjadi terbatas. (Mahaarum, 2007)

Agar maksud yang hendak saya sampaikan lebih tepat sasaran mengenai perlunya advokasi di UGM, ada baiknya saya membagi sebuah kisah unik, yang mungkin boleh juga dibilang agak menjengkelkan pada liburan semester ganjil ini. Pengalaman seputar kacaunya sistem registrasi mahasiswa UGM terjadi pada saat saya hendak membayar SPP di bank Mandiri Kota Blitar hari Rabu, 30 Januari 2013. Saya cukup terkejut saat teller bank menyebutkan jumlah tagihan yang harus saya bayarkan semester ini adalah Rp. 2.040.000,00 dengan rincian biaya BOP semester V Rp. 1.500.000,00 dan SPP Semester VI Rp. 540.000,00. Hendak protes pada si mas-mas teller kalau saya semester lalu mendapatkan beasiswa BOP, tapi akhirnya saya urungkan. Toh, si mas-mas itu cuman pegawai bank biasa yang kalau saya ceritakan pun nggak akanngeh apalagi sampai bisa mengembalikan jumlah tagihan ke nominal semula. Lagipula kalau saya ngocehkepanjangan bisa-bisa ibu-ibu dibelakangan saya ngamuk karena akan nambah panjang antrian.

Oke, singkat cerita akhirnya saya putuskan untuk membatalkan pembayaran karena ya memang waktu itu cuma bawa uang pas. Pada saat hendak menuju pintu keluar saya bertemu dengan teman satu fakultas yang juga hendak membayar SPP, kebetulan juga dia mendapatkan beasiswa BOP. Namun, dia tidak mendapatkan tagihan BOP seperti halnya yang terjadi pada saya. Tagihannya ya hanya sebesar Rp. 540.000,00 untuk biaya SPP. Setelah nanya-nanya sedikit, ternyata semester kemarin dia membayar BOP tepat waktu. Bulan November waktunya mbayar BOP, dia bayarkan. Lalu Desember keluar pengumuman penerima beasiswa BOP, uangnya dikembalikan oleh pihak UGM.

Hal sebaliknya terjadi pada saya, karena saya biasa dapat beasiswa BOP dan sepertinya semester ini bakalan dapat lagi, maka saya sengaja tidak membayar BOP untuk semester lalu. Toh saya pikir nggak akan ada masalah seperti ini. Akhirnya, awal Desember saya inisiatif menanyakan ke salah seorang petugas akademik fakultas mengenai SK Penerima BOP karena tak kunjung turun juga, akhirnya diberikannya danalhamdulillah saya mendapatkan beasiswa tersebut. Karena sudah pasti dapat beasiswa, saya nyantai, hidup saya ya nggak ada masalah dan kuliah ujian berlanjut seperti biasa. Namun, petaka akhirnya datang saat pembayaran SPP untuk semester VI ini. Setelah saya cek ke kadept Advokasi yang sekarang, ternyata dia juga banyak menerima pengaduan yang seperti saya. Pilihannya ya hanya dua, yang pertama membayarkan tagihan sesuai yang diminta dan akan dikembalikan kemudian setelah saya membawa bukti slip pembayaran, atau pilihan kedua kembali lagi ke Jogja di tengah-tengah liburan kemudian menghadap ke Dirkeu agar tagihan BOP dihapus. Saya hanya bisa menghela nafas, sedikit menggerutu, ”Ada-ada saja nih ulah UGM nyusahin mahasiswa”. Pertimbangan saya, waktu pembayaran SPP tinggal 2 hari lagi sehingga tidak memungkinkan untuk kembali ke Jogja secepatnya, yang ada akhirnya nanti saya jadi telat bayar SPP dan akan semakin menambah keribetan kalau harus izin akademik, dilempar sana-sini dulu agar bisa KRS-an. Males banget kan?

Mungkin pengalaman saya beberapa hari yang lalu hanya salah satu dari sekian banyak pengalaman-pengalaman mahasiswa tidak mampu lainnya yang juga harus dihadapkan pada ribetnya berurusan dengan birokrasi. Pada posisi ini, saya hanya sedikit beruntung karena setidaknya tau harus bagaimana, kebetulan bertemu teman dan kemudian harus menghubungi siapa. Bayangkan bagaimana dengan seorang mahasiswa dari daerah nun jauh dari kampus UGM, seperti Aceh, Papua, Maluku, atau Nusa Tenggara, yang misalkan baru mempunyai kesempatan pulang kampung semester ini, kemudian mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada saya, dan kebetulan juga dia tergolong mahasiswa tidak mampu. Bisa jadi dia akan panik karena harus mendapatkan uang lebih dari 2 juta dalam waktu hanya 2 hari. Bila dia juga memiliki opsi yang sama dengan saya juga, apakah dia harus pulang saat itu juga ke Jogja untuk menyelamatkan studinya? Untuk itulah Advokasi harus ada.

Dalam hal ini, bila mahasiswa bermasalah seperti cerita saya diatas menuntut bantuan dari kawan-kawan BEM khususnya kawan-kawan Advokasi, tentu mereka juga tidak salah karena mereka juga berhak, dan tentu saja kawan-kawan Advokasi pun tidak boleh menolak karena untuk itulah advokasi diperlukan, dibentuk, dan hingga saat ini tetap bertahan/ada. Namun, seorang aktivis advokasi kampus tetaplah seorang mahasiswa biasa yang juga memiliki tanggungjawab terhadap orang tua mengenai studinya, seorang aktivis tetap harus melaksanakan ujian, dan terkadang pulang kampung saat libur semester yang menyebabkan beberapa kewajibannya tertunda. Intinya, seorang aktivis sendiri pun tidak bisa menjaminkan akan menyediakan waktunya 24 jam, sehingga akan lebih baik lagi bila seorang aktivis juga mampu menularkan inisiaif, kemandirian, ilmu serta langkah-langkah advokasi kepada mahasiswa lainnya, tidak hanya sekedar membantu dan mendampingi hingga tujuan akhir tercapai karena pada dasarnya setiap orang memiliki naluri dasar untuk membela (mengadvokasi, red) dirinya sendiri. Hanya saja mungkin kadarnya kemampuannya yang berbeda, seperti misalnya kemampuan mengadvokasi seorang pengacara tentu jauh lebih baik daripada seorang ilmuwan karena kapasitas dan disiplin ilmu yang melatar belakangi seorang pengacara yang memang lebih diarahkan untuk berdiplomasi membela seseorang/golongan.

Selain bertanggungjawab mengarahkan dan memunculkan inisiatif, seorang aktivis advokasi juga wajib menyebarkan semacam pemberitahuan atau sejenis publikasi kepada khalayak bahwa sesungguhnya di kampus FMIPA UGM, di tengah-tengah para calon saintis yang sedang menimba ilmu, terdapat sebuah Departemen Advokasi yang memiliki fungsi pengabdian dan terdapat juga sebuah divisi bernama Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) yang menerima aduan seputar permasalahan akademik. Hal semacam itu perlu dilakukan mengingat selama ini fenomena yang saya lihat banyak sekali mahasiswa yang tau bahwa ada BEM, banyak mahasiswa yang tau ada departemen yang bernama Advokasi, namun mereka cenderung acuh dan menganggap tak penting. Bahkan saat mempunyai masalah akademis, mereka tak mengadukan atau sekedar ’curhat’ entah karena memang benar-benar enggan, malu, atau karena tidak mengetahui fungsi dari sebuah departemen bernama Advokasi. Faktanya, saat mereka tau bahwa saya dulu adalah seorang Kepala Departemen Advokasi pernyataan yang pertama kali muncul adalah ”hah, udah berapa kali lu demo, Mei?” atau ”Advo tuh pasti yang suka demo-demo itu kan, Mei?” atau ”Kok mau-mauansih kamu demo, Mei.” dan berjenis-jenis pernyataan soal demo lainnya, bahkan saat saya tidak masuk kuliah atau izin pulang duluan dari praktikum, mungkin yang terlintas dipikiran mereka si Meissha lagi demo kali, ya.

Jenis Advokasi

Meskipun setiap orang pada dasarnya memiliki naluri untuk mengadvokasi diri sendiri, bukan berarti seorang aktivis advokasi yang dalam hal ini lebih expert dapat mengabaikan permohonan bantuan dari kawannya yang kebanyakan memang lebih awam. Seorang aktivis avokasi harusnya tau bagaimana menyikapi sebuah kasus: apakah hanya mengarahkan, mendampingi saja, atau sampai turun tangan langsung, karena seringkali lebih dari satu kasus datang dalam waktu bersamaan dan tentu saja dengan keterbatasan SDM tidak bisa semua kasus diselesaikan. Oleh karena itu, seorang aktivis harus mengambil prioritas berdasarkan besarnya dan pentingnya kasus, serta kemampuan diplomasi si korban sendiri. Point terakhir sangat penting diperhatikan karena adakalanya dalam sebuah kasus seorang aktivis harus lebih mementingkan korban yang kurang cakap daripada korban yang memiliki kemampuan berdiplomasi cukup mumpuni, namun dengan beberapa pertimbangan-pertimbangan tentunya.

Selain itu, pemetaan terhadap jenis-jenis kasus dalam advokasi cukup penting dilakukan, sebelum memetakan hendaknya seorang aktivis harus memahami pengertian dari jenis-jenis kasus:

Kasus persona adalah kasus yang terjadi pada orang/golongan tertentu, bersifat lebih khusus dan tidak sama antara kasus satu orang dengan orang lainnya. Penyelesaian kasus persona tidak bisa dilakukan sekaligus namun harus satu-persatu. Contohnya, pada saat bersamaan ada tiga orang mahasiswa mengadukan permasalahan yang berbeda: minta diadvokasi agar bisa melaksanakan ujian, lainnya bermasalah dengan permohonan pendanaan student exchange ke luar negeri, sedangkan satunya bermasalah mengenai perizinan tanding basket ke luar kota. Mana yang harus didampingi terlebih dahulu? Tentu harus bijak dalam memilh prioritas karena kasus persona tidak dapat diselesaikan semua sekaligus.
Kasus general adalah kasus yang bersifat lebih umum, antara beberapa pribadi memiliki kesamaan inti problema. Dalam menyelesaikan kasus yang bersifat general biasanya ditelusuri terlebih dulu penyebabnya (dilakukan investigasi data) kemudian dapat diambil benang merahnya untuk diselesaikan dengan membawa kepentingan semua pihak. Contohnya, kasus BOP diatas. Kasus tersebut tidak hanya saya yang mengalami, namun juga banyak orang sehingga untuk lebih mengefisienkan waktu dan tenaga, pengadvokasian tidak perlu dilakukan berulang-ulang untuk menyelesaikan kasus per orangnya, namun bisa dilakukan pengadvokasian sekaligus. Contoh lainnya adalah kasus pengadvokasian SPMA mahasiswa baru, pengadvokasian mahasiswa terlambat mendaftar KKN, dll.

Berikut ini adalah penjelasan singkat dari jenis-jenis advokasi yang dapat dilakukan, dari pemaparan berikut jelaslah bahwa advokasi dapat dilakukan semua orang/kelompok, tidak hanya oleh pengacara di dalam meja hijau. Jenis-jenis advokasi tersebut diantaranya:

ADVOKASI HUKUM (litigasi/non litigasi): berarti advokasi yang dibawa ke jalur hukum (litigasi), sedangkan advokasi non litigasi berarti yang tidak dibawa ke jalur hukum artinya diselesaikan dengan cara yang lebih kekeluargaan seperti musyawarah, audiensi terbuka, dll.
ADVOKASI SOSIAL (charity/philanthropy/social action/community development): Berangkat dari visi pembangunan sosial concern dengan pemberdayaan; pembangunan masyarakat; dan aksi sosial (Mahaarum, 2007).
ADVOKASI KEBIJAKAN PUBLIK (ekstra litigasi): yang termasuk dalam kebijakan publik adalah isi/naskah hukum, tata laksana hukum, dan budaya hukum. Advokasi kebijakan publik dilakukan dengan cara-cara yang berbeda tergantung dari jenis penggolongan proses pembuatan kebijakan publik bersangkutan. Ada tiga proses pembentukan kebijakan publik yang membedakan cara-cara pengadvokasian kebijakan publik:

PROSES-PROSES LEGISLASI DAN JURISDIKSI: pengajuan usul, konsep tanding, dan pembelaan dengan sarana: legal drafting, counter draft, judicial review, class action, legal standing, litigasi/jurisprudensi
PROSES-PROSES POLITIK DAN BIROKRASI: mempengaruhi pembuat dan pelaksana peraturan dengan sarana : lobby, negosiasi, mediasi, dan kolaborasi
PROSES-PROSES SOSIALISASI DAN MOBILISASI: Membentuk pendapat umum dan tekanan politik dengan sarana: kampanye, siaran pers, unjuk rasa, mogok, boykot, pengorganisasian basis, dan pendidikan politik.

Kemudian, berikut saya rangkumkan langka kerja advokasi secara teoritis yang dapat digunakan untuk merancang strategi gerakan:

Mendapat kasus, konfirmasi dengan ‘korban’
Investigasi data (Ke pelaku, pihak lain)
Kajian data (Bisa minta pendapat ahli, hearing, kuesioner, diskusi, dll) dilanjutkan pengambilan sikap
Lobbi dan negosiasi dengan pihak terkait (Bisa selesai disini)
Bangun opini publik dengan media
Aksi (Untuk penekanan)
Bawa kasus ke pengadilan (Langkah terakhir, ikuti prosedur hukum acara)

Advokasi dan Kastrat, mengapa harus diletakkan dalam departemen yang berbeda?

BEM KM FMIPA UGM memiliki sejarah tersendiri terkait kinerja dan hubungan diantara Departemen Advokasi dan Kastrat khususnya dalam pembagian tugas yang terlihat dalam susunan struktural. Tahun 2010 dalam susunan struktural kabinet, Advokasi dan Kastrat dipisah dalam Departemen yang berbeda. Tahun 2011 entah dengan alasan apa, kemudian Kastrat menjadi sebuah divisi dari Departemen Rispek (Riset dan Pengkajian). Kerja riset dan mengkaji diletakkan dalam satu departemen sehingga fungsi kajian terasa kurang ’hidup’. Atas saran dari tahun sebelumnya, kemudian tahun 2012 Kastrat dipindah menjadi sebuah divisi yang tergabung dalam Departemen Advokasi. Hasilnya bisa ditebak, Departemen Advokasi cukup kewalahan karena mengampu beberapa fungsi vital sekaligus.

Advokasi dan Kastrat memang harus selalu berkaitan, keduanya harus saling bekerja sama dalam membangun dan merancang arah gerak. Advokasi dan Kastrat memang abu-abu, pembatas diantara keduanya cukup tipis. Pembedanya mungkin hanya ranah isu yang dikaji, Kastrat lebih ke arah eksternal sedangkan Advokasi lebih ke internal. Namun, keduanya tetaplah berbeda. Khususnya, Kastrat bukanlah Riset dan Kastrat bukanlah Advokasi meskipun ketiga saling berkaitan namun tetaplah berbeda sehingga harus tetap dipisah untuk lebih mengoptimalkan pemisahan kerja dan jenis-jenis isu yang mesti digarap.

Pengalaman dua tahun tersebut seharusnya cukup untuk memberikan gambaran bagaimana seharusnya peletakan Advokasi, Kastrat, dan Riset dalam struktural dan bagaimana harusnya hubungan ketiganya dalam menyikapi sebuah isu dan merancang strategi gerakan, sampai saat memanajemen isu-isu penting serta memisahkan garapan diantara ketiganya agar jangan sampai terjadi dua departemen mengawal isu yang sama. Saat ini ranah kerja Departemen Advokasi lebih berkembang luas, tidak hanya menyoroti dan membela masalah dana, namun juga mulai bergerak untuk menyikapi kebijakan pimpinan universitas mengenai hal lain yang dianggap sebagai sumber/akar permasalahan yaitu kebijakan pimpian universitas yang berawal dari pemilihan rector sebagai titik mula mempengaruhi pembuat kebijakan, transparansi RKAT, registrasi mahasiswa baru, kegiatan mahasiswa, dll.

Bagaimana bila tidak ada Departemen Riset? Berbahayakah?

Tahun ini Advokasi dan Kastrat dipisahkan dalam departemen yang berbeda, namun tidak ada lagi Departemen Riset dalam kabinet BEM KM FMIPA UGM tahun ini. Menurut informasi yang saya dapat, kerja riset dilakukan dalam Departemen Kastrat. Sebelum menjawab sendiri pertanyaan yang menjadi judul segmen ini, harus dipahami dulu bahwa fungsi riset adalah memberikan informasi dan data sebagai input sebelum terjadi gerakan, fungsi tersebut sangat vital terutama karena ketersediaan informasi dan data menjadi langkah yang harus dipenuhi pertama kali sebelum merancang sebuah gerakan. Data dan informasi merupakan komponen yang sangat penting, kecerdikan dalam menganalisis isu sebagai dapur gerakan sangat tergantung dari analisis data yang ada, karena berbagai macam persoalan dan kasus yang mesti dihadapi oleh Departemen Advokasi yang sekarang tidak hanya membutuhkan kepandaian berdiplomasi namun juga membutuhkan ketrampilan menganalisis ’bahan mentah’ dari Departemen Riset yang baik.

Departemen Riset sesungguhnya sangat memiliki andil dan peran besar dalam merancang sebuah gerakan, tidak seremeh hanya membuat kuesioner. Lebih dari itu, Departemen Riset harusnya juga mempunyai release per bulan atau maksimal per 3 bulan mengenai perkembangan kasus korupsi energi atau kasus yang menjadi grand theme kabinet di tahun itu. Apabila kerja riset digabung dengan Pengkajian Strategis, sebenarnya boleh-boleh saja dan BEM akan tetap terlihat baik-baik saja, namun gerakan yang tercipta sebagai output lebih terkesan kurang ’taktis’ karena riset yang dilakukan oleh Departemen Kastrat cenderung lebih sempit, hanya untuk memenuhi kebutuhan intern departemen itu sendiri. Padahal, sejatinya riset dilakukan untuk memenuhi kebutuhan semua departemen dalam orgenisasi itu.

Advokasi tidak bekerja sendiri. Oleh karena itu, membutuhkan jaringan yang luas, baik di lingkup kampus UGM maupun di luar lingkup kampus. Jaringan dengan kawan-kawan Advokasi se-UGM (FORMAD) yang sudah ada beberapa tahun yang lalu hendaknya benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, komunikasi hendaknya dijaga dan dipupuk terus untuk menjaga keharmonisan gerakan. Namun, jaringan gerakan advokasi intra UGM tentu saja tidak cukup, seorang aktivis advokasi perlu berinisiatif membentuk jaringan dan kerjasama dengan lembaga/gerakan ekstra kampus, seperti misalnya LBH, Aliansi Buruh dan Petani, Paguyuban Pedagang Asongan dan Kaki Lima, dan Gertak. Jaringan-jaringan dengan pihak tersebut akan sangat membantu kerja advokasi.

Hal lain yang perlu diingat dan sering dilalaikan, dalam membentuk jaringan jangan sampai timpang sebelah, dalam artian hanya dengan ’gerakan kanan’ saja atau ’gerakan kiri’ saja. Disinilah pentingnya arahan dari seorang Kepala Departemen. Staff yang tentu saja masih buta akan gerakan-gerakan kekinian di UGM karena kebanyakan masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai hal terkait sebagai mahasiswa tahun pertama tentu saja tidak dapat cukup diharapkan. Seorang Kepala Departemen maupun Kepala Divisi wajib menanamkan pentingnya memiliki jaringan, lebih penting lagi tidak mengarahkan staff kearah salah satu diantaranya. Atas dasar itulah, seorang Kepala Departemen wajib membentuk jaringan baik ke kanan, kiri, atas, maupun bawah dan bukan hanya salah satu diantaranya saja.

*Mohon maaf karena keterbatasan pengetahuan sebagian isi notes saya kutip dari sumber tertentu, sebagian saya tulis berdasarkan opini, pengalaman, dan analisis pribadi.

*Mohon maaf apabila isi notes terlalu teoritis, semoga bermanfaat dalam merancang sebuah aksi atau gerakan.


  • 0

CELOTEH-AN KAMI MENGENAI PEMILIHAN DEKAN FAKULTAS MIPA

Category : Advokasi , Tak Berkategori

Salam sejahtera buat tementemen FMIPA (khususnya dong yaaa) yang sedang liburan maupun yang sedang menjalankan amanah nya di Fakultas hehe

Kami disini sebagai Keluarga Advokasi FMIPA pengen bangeettt ngasih tau ke tementemen kalo di Fakultas kita ituu lagi ada EVENT besar-besar an, mau tau mau tau mau tauuuuu? 😀

Sekedar intermezzo aja yaa nih tementemen sebelum kita bahas lebih lanjut. Kami sengaja iseng lah buat ngepo-in salah satu temen buat nanya tentang event yang “bergengsi” ini. Gini ceritanya :

A : Eh, gue ada kabar baru nih di MIPA

B : Apaaa?

A : masa sih lu ga tauu -_-

B : Terus apaaa EVENT-nya?????

A :Mau tau yaaa???

B :-___- *mukadatar

A : mau tau bangetbanget yaaa???

B : teruuss masalah buat gue????

A : IYA INI MASALAH BUAT LO *teriak

B : gue ?? MIPA?? Gue kaan anak baikbaik, sorry broo

A : yakin?? Haha, mau gue kasih tau gaaa??

B : Iyeee, udeh apaaan??

A : Pemilihan Dekan, bro

B : (kaget) WOW , itu baru “masalah” buat gue, kesejahteraan tementemen gue, BapakIbu gue, sodara gue, kakek gue, nenek gue, om tante gue, sepupu gue, adek gue, kakek angkat gue, emak tiri gue, DAN PASTI NYA TEMENTEMEN FMIPA GUE !

A : please deh ah -__- ini juga “masalah” buat gue, broo. Nah skrg mending kita bahas bareng tementemen supaya semua masalah lo dan keluarga lo, eh enggaaaaaaaa!!! Buat semua keluarga FMIPA deh pokoknya , yuk ah kita kajiaaaaaannn J

Nah pokoknya pengenalan mengawali celotehan tentang PILDEK ini yaa seperti cerita singkat di atas. Untuk melanjutkan pengenalan mengenai PILDEK , kami akan bahas lebih mendalam pada uraian berikut ini. Disini, kami mengambil tema yang berisikan “Tampuk Nahkoda Kepemimpinan dalam Asa dan Rasa Kesejahteraan Hakiki Ilmuwan Indonesia”.

Tampuk Nahkoda Kepemimpinan dalam Asa dan Rasa Kesejahteraan Hakiki Ilmuwan Indonesia

Temen-temen, seperti yang kita tau. Kalo hari-hari ke depan ada event yang sangat penting buat keluarga FMIPA. Ya, mengenai Pemilihan Dekan Fakultas MIPA. Mungkin masih banyak temen-temen yang lagi liburan dan mungkin aja belum pada tau tentang event “besar” ini. Oleh karena itu, kami berusaha memberikan informasi yang transparatif buat temen-temen tau kalo sekarang kita patut untuk bersuara bahkan menyuarakan aspirasi “siapa pemimpin dalam keluarga kita kelak?”. Pertanyaan itu dapat dijawab dengan adanya Pemilihan Dekan di FMIPA ini.

Temen-temen juga perlu tau bagaimana dan seperti apa berjalannya proses Pemilihan Dekan FMIPA ini. Namun sebelumnya, temen-temen juga perlu tau kalo pemilihan ini memiliki tujuan yang amat mulia. Seperti judul yang telah dituliskan yaitu mengenai Tampuk Nahkoda Kepemimpinan. Proses pemilihan Dekan ini merupakan pergantian periode kepemimpinan dengan kehadiran beberapa calon pemimpin yang akan menjalankan amanah nya. Dapat kita bandingkan bagaimana tata cara pemilihan dekan ini yang sangat berbeda dengan pemilihan rektor. Di FMIPA sendiri, belum terdengar “gaungan” yang kencang menyuarakan bahwa ada event besar ini. Sebagian saja memang yang mengetahui. Namun hal tersebut bukan menjadi satu masalah pelik jika informasi ini dapat segera disebarluaskan menjadi perbincangan yang amat harus diperhatikan. Tampuk Nahkoda Kepemimpinan ini akan segera berpindah dalam tata cara yang pastinya sesuai dengan visi, misi dan sasaran FMIPA itu sendiri.

Pemimpin diidentikan dengan sebuah “identitas”. Identitas dalam hal ini bukan diartikan sebagai kata benda, namun identitas disini adalah penggambaran karakterisitik keloyalitas-an kepemimpinan yang tentunya memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya tanpa memihak. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan sebagai mahasiswa/i FMIPA yang terpenuhi dengan segala naungannya sesuai dengan visi, misi dan sasaran dari FMIPA itu sendiri. Visi, misi dan sasaran FMIPA dapat dijadikan sebagai “teman” melangkah bagi tampuk pergantian kepemimpinan ini. Kepedulian akan siapa yang menjalankan tampuk kepemimpinan tersebut, menjadi hal yang sangat berpengaruh ketika kita salah memilih.

Dekan? Pemimpin? Ya, Dekan adalah seorang pemimpin di tingakat Fakultas yang tentunya menjalankan segala amanah nya sesuai dengan visi,misi dan sasaran di fakultasnya. Sebagai Fakultas yang sarat dengan ilmu alam dan lebih berkontribusi pada kesejahteraan ilmuwan,nantinya. Seperti yang telah diketahui, mahasiswa/i FMIPA memang bukan sebagai “mesin pencetak” yang nantinya hanya dimanfaatkan dalam kesempatan semata, bahkan dengan luhur menyumbangkan ilmunya bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Hal ini sangat penting diperhatikan bagi tampuk kepemimpinan Dekan FMIPA selanjutnya.

PILDEK ini “sepengalaman” tahun lalu, mahasiswa belum sepenuhnya ikut serta dalam menyumbangkan suaranya. Hari ini, saat PILDEK hari ini, kami berniat untuk mengajukan “kajian” mengenai “tuntutan” akan partisipasi mahasiswa/i dalam PILDEK kali ini. Hal ini sangat penting karena komunikasi harus diperhatikan antara mahasiswa/i dengan pihak Dekanat sehingga dapat meningkatkan kesinergisan tugas dalam memnjalankan visi,misi dan sasaran di FMIPA. Disini sebenarnya tidak harus semuanya mengikuti PILDEK dan menyuarakan suaranya. Kami, Department Advokasi FMIPA, telah membuka alur komunikasi melalui media sosial agar suara semua mahasiswa/i FMIPA dapat kami tampung dan kami bawa sebagai “tuntutan” bersyarat bagi PILDEK hari ini. “Tuntutan” tersebut tidak berisikan kritikan tajam, hanya saja sebuah masukan dan pembenahan tampuk kepemimpinan sebelumnya.

Kriteria yang seperti apa yang dibutuhkan menjadi calon Dekan? Bagaimana alur kaderisasinya? bagaimana jadwal alur kaderisasinya? Hal ini sangat amat penting diperhatikan agar ketika calon pemimpin kita menyuarakan asipirasi dapat sesuai dengan alur prosedur kaderisasi. Informasi tersebut dapat diunduh di website : ugm.ac.id mengenai pemilihan dekan 2012-2016. Dalam informasi tersebut terlihat jelas bagaimana calon pemimpin disesuaikan kriteria nya menurut universitas agar layak menjalankan kepemimpinannya.

Asa dan Rasa dalam Kesejahteraan Hakiki Ilmuwan Indonesia memiliki peranan dan pengaruh penting yang dapat disinergiskan untuk tampuk kepemimpinan selanjutnya. FMIPA sebagian besar berkecimpung dengan dunia riset dan ilmiah. Oleh karena itu, dukungan terwujudnya “Kesejahteraan Hakiki Ilmuwan Indonesia” sangat penting diperhatikan untuk dijadikan sebagai “teman” pendamping visi,misi dan sasaran FMIPA bagi Indonesia.

Siapa yang akan terpilih nanti? Apakah suara mahasiswa/i akan terealisasikan? Apakah “tuntutan” dapat berjalan sesuai dengan apa yang mahasiswa/i fikirkan selama di FMIPA ini? Apakah setelah pemilihan Dekan selanjutnya “kesinergisan” kepemimpinan dengan komunikasi mahasiswa/i dengan pihak Dekanat dapat berjalan komunikatif? Bagaimana jajaran tampuk kepemimpinan selanjutnya mendukung suara mahasiswa/i FMIPA?

Sekian,

Fatimah Nopriardy


  • 0

JAWABAN RILIS TUNTUTAN DAN ASPIRASI, DIES NATALIS MIPA KE-60

Category : Advokasi , Tak Berkategori

Jumat, 18 September 2015, tepat satu hari sebelum Lustrum ke-XII Fakultas MIPA UGM, Presiden Mahasiswa dan Kepala Departemen Advokasi BEM KM FMIPA UGM menemui Bapak Pekik Nurwantoro selaku Dekan FMIPA UGM dalam rangka menyerahkan rilis aspirasi dan tuntutan yang dirumuskan atas nama Keluarga Mahasiswa FMIPA UGM. Berikut jawaban rilis yang dapat kami sampaikan. Jawaban dari pihak Dekanat terkait delapan tuntutan kepada pihak fakultas yaitu:• Memberikan skema penyesuaian UKT yang jelas dan bijak kepada para mahasiswaFakultas MIPA UGM sejak dulu mengikuti Universitas (sesuai rapat koordinasi WRAK dengan Wadek Akademik dan Kemahasiswaan/WDAK seluruh Fakultas dan Sekolah Vokasi di lingkungan UGM) dalam mekanisme penyesuaian UKT. Skema tersebut tidak dipublikasikan secara luas dikarenakan bersifat Edaran atau Panduan dari universitas, bukan Surat Keputusan Rektor, agar seluruh WDAK di UGM memiliki keseragaman dalam menentukan permohonan penyesuaian UKT. Meskipun Skema tersebut tidak diedarkan, WDAK selalu menjelaskan Skema tersebut kepada individu yang mengajukan maupun anggota Advokasi BEM ketika bertatap-muka. • Memasukkan tanggungan menjadi parameter penentuan UKTParameter penentuan UKT merupakan salah satu poin yang dirumuskan bersama ditingkat universitas. Disepakati tidak menjadikan keseluruhan anak sebagai jumlah tanggungan ke dalam salah satu parameter penentu terkait pertimbangan generik pada sistem. Banyak faktor lain yang lebih fisibel untuk penentuan kemampuan orangtua seperti keadaan rumah dan perangkat isinya, pembayaran PLN dan indikator lain.• Tidak menghapuskan penundaan UKT/SPP• Mekanisme penundaan diperjelas dan diperbaiki termasuk timeline yang sering mendadak(Jawaban poin 3 dan 4 disatukan). Telah disepakati bahwa mulai semester depan akan tidak ada lagi penundaan UKT/SPP. Mahasiswa perlu memenuhi jadwal yang ditentukan universitas karena ketertiban administrasi berupa pemahaman jadwal merupakan bagian yang tidak terpisah bagi kelancaran organisasi. Meski demikian, FMIPA bersama beberapa fakultas mengusulkan pemikiran agar sangsi bagi pembayaran tidak tepat waktu adalah tidak berupa cuti atau tidak aktif kuliah, namun berupa sangsi akademik misalnya berupa pemotongan SKS maksimal yang bisa diambil (seperti yang berlaku di National University of Singapore/NUS). Bentuk sangsi masih dikoordinasikan di universitas.• Kejelasan pembayaran kuliah lapangan untuk mahasiswa Geofisika apakah termasuk dalam UKT atau tidakPerumusan UKT berawal dari Program Studi masing-masing. Dalam hal ini, Prodi Geofisika serta Kimia melihat ada variasi yang besar untuk merumuskan seluruh kebutuhan anggaran kuliah lapangan dan penelitian Tugas akhir ke dalam UKT karena tujuan (tempat) kuliah lapangan yang berbeda-beda tiap mahasiswa dan kebutuhan bahan kimia untuk penelitian belum dapat diperkirakan sejak dini. Sehingga, biayanya pun berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan mahasiswa Geofisika serta Kimia boleh jadi masih memerlukan tambahan pembiayaan untuk keperluan kuliah lapangan atau penelitian Tugas Akhir. Meski biaya kuliah lapangan atau penelitian Tugas Akhir Kimia tidak seluruhnya dapat tercover dalam UKT, namun dipastikan bahwa biaya tersebut bukan digunakan untuk proses pembelajaran itu sendiri. Jika ada biaya tambahan, maka biaya tersebut merupakan biaya yang digunakan langsung untuk mahasiswa seperti biaya menuju lokasi, biaya penginapan dan makan serta biaya pembelian bahan Kimia.• Koordinasi antara universitas, fakultas, jurusan, dan direktorat di UGM harus diperbaiki, diperjelas, dan dipertegas Dekanat mengakui bahwa koordinasi yang lemah masih menjadi kekurangan UGM, namun pihak UGM termasuk FMIPA berusaha untuk terus meningkatkan koordinasinya agar menjadi lebih baik. Salah satunya adalah menerapkan sistem Paper-Less Office, pemberian informasi melewati sistem komputer bukan lagi dengan kertas yang dikembangkan staf FMIPA yaitu Pak Bambang Prastowo, serta menghapuskan tahapan yang tidak perlu dalam penyaluran informasi agar informasi bisa diterima dengan cepat dan jelas. • Memberikan kejelasan terhadap SBA dan mahasiswa MIPA tentang lokasi parkir setelah gedung C selesai dibangun bulan Desember 2015.Meski pembangunan akan selesai bulan Desember, namun masih ada masa pemeliharaan gedung selama minimal enam bulan. Jika selama masa pemeliharaan lokasi di sekitar gedung sudah boleh digunakan, maka sepeda motor yang sebelumnya parkir di lapangan basket akan dipindah di sekitar gedung baru. Termasuk jika memungkinkan tempat parkir di depan Auditorium pun juga akan dipindahkan ke sana. Sehingga di tengah-tengah kampus benar-benar bersih dari motor dan polusinya. • Memberikan kepastian perbaikan lapangan basket pasca dijadikan lapangan parkir.Pihak dekanat telah memberikan kepastian akan memperbaiki lapangan basket pasca dijadikan tempat parkir apabila lapangan tersebut mengalami kerusakan. Anggarannya pun telah dirumuskan dalam AD/ART. Lapangan Basket jelas akan diperbaiki dan difungsikan seperti semula atau ditambahkan fasilitas untuk kegiatan keolahragaan yang lain.Terkait lima aspirasi atau saran yang juga diajukan yaitu :• Memberikan batasan zona merokok di kampus• Mempertegas alur dan aturan parkir baik di kampus selatan maupun utara. Terutama aturan parkir di lapangan basket hingga jam 16.00 WIB.• Meningkatkan pelayanan akademik maupun nonakademik termasuk penjelasan tentang fasilitas SIC.• Memberikan apresiasi terkait pengembangan prestasi mahasiswa MIPA terutama di bidang olahraga dan seni, bukan hanya akademik.• Memasang himbauan untuk menjaga lingkungan kampus agar senantiasa bersih dan hijau secara fisik dan nonfisik. Pada prinsipnya, pihak Dekanat memberikan keleluasaan kepada KM FMIPA UGM jika ingin memberikan tanda larangan merokok, menjaga kebersihan kampus, himbauan parkir rapi, dan hal lain yang dapat memberikan konstribusi baik dan mendukung Safety, Health and Environment terhadap FMIPA. Tentu saja pihak Dekanat akan mendukung baik secara moril maupun finansial. Fakultas tidak pernah membedakan prestasi dalam bentuk apapun, baik akademik, olahraga dan seni. Fakultas dan Universitas memberikan apresiasi bagi setiap insan yang dapat membawa nama baik institusi, baik fakultas maupun uinversitas, pada ajang kompetisi tingkat Nasional dan Internasional, baik akademik, seni, olahraga maupun bentuk prestasi lainnya.   Terkait dengan SIC, pihak Dekanat telah mengkaji bahwa selama beberapa tahun terakhir, pemanfaatn SIC sangat tidak optimal seiring meningkatnya penggunaan wireless melalui perangkat HP, Tablet dan Notebook. Untuk itu FMIPA akan mengalihfungsikan SIC berupa peningkatan akses wireless di banyak spot dan common area di lingkup fakultas. Gedung SIC akan dioptimalkan untuk keperluan unit-unit yang masih minimal seperti Jurusan Matematika, Jurusan IKE atau Perpustakaan. Demikian jawaban dari Dekan FMIPA UGM atas tuntutan yang diberikan oleh KM FMIPA UGM. Tanggapan ini tentu perlu diapresiasi oleh seluruh Mahasiswa FMIPA UGM. Namun ada beberapa hal yang menjadi catatan bagi kami. Perihal UKT, kami sangat berharap Tanggungan orang tua menjadi pertimbangan dalam menentukan nilai UKT. Serta Kami berharap Dekanat terus berperan aktif dalam memperbaiki masalah koordinasi di UGM. Karena masalah koordinasi sangat signifikan dampaknya bagi mahasiswa, khususnya perihal masalah keuangan/pembayaran.Kami ucapkan terimakasih kepada pihak Dekanat yang telah menjawab aspirasi kami, besar harapan kami selaku mahasiswa FMIPA agar Dekanat senantiasa terbuka untuk menampung dan menjawab aspirasi kami selaku mahasiswa FMIPA UGM.KELUARGA MAHASISWA FAKULTAS MIPA UGMBem KM Fmipa Ugm Fahmi Aziz Advokasi Mipa Ugm Lsis Fmipa Ugm Himasta Fmipa Ugm Himatika UGM Kmfm Ugm HIMAKOM UGM HMEI UGM KMK UGM KMF FMIPA UGM Komunitas Fisika Gadjah Mada ( KFGama ) HMGF UGM Kmkath Mipa Ugm PMK Science Basketball Association (SBA) SMC Pasains SFC DPM KM FMIPA UGM