Home » Tak Berkategori » [KRONOLOGI] Pesta Rakyat Gadjah Mada 2 Mei 2016 (Hardiknas)

[KRONOLOGI] Pesta Rakyat Gadjah Mada 2 Mei 2016 (Hardiknas)

Rentetan peristiwa tanggal 2 Mei 2016 ini dimulai pukul 08:30 ketika massa dari Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) berkumpul di depan Sekre BEM KM FMIPA UGM, kemudian berangkat dan berhenti seraya menunggu massa dari Fakultas Biologi bergabung. Tidak lama setelah massa dari Fakultas Biologi bergabung, datang massa dari Fakultas Teknik. Pada pukul 08:45, massa dari tiga fakultas tersebut berangkat menuju Kluster Medika hingga kemudian massa dari Fakultas Kedokteran ikut bergabung. Seluruh massa Aksi dari keempat fakultas tersebut berjalan bersama menuju Sekolah Vokasi.

Pukul 09:00 seluruh massa yang telah berkumpul di Sekolah Vokasi berangkat menuju GSP melewati Jalan sebelah utara BNI cabang UGM. Massa kemudian berhenti sebentar di depan DSSDI (Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi) guna menselaraskan yel-yel yang nantinya dinyanyikan di depan Gedung Rektorat.

Massa kembali bergerak hingga di Barat Fakultas ISIPOL dan bergabung dengan Kluster Sosial-Humaniora. Ada beberapa mahasiswa yang menyulut semangat massa dengan orasi seraya menunggu Upacara Peringatan Hardiknas selesai, yang turut mengundang mahasiswa berprestasi pada acara tersebut. “Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap berbagai masalah di UGM” kata salah satu orator. Beberapa saat kemudian, upacara selesai sehingga massa langsung bergerak menuju utara Gedung Rektorat.

Tim negosiator langsung bernegosiasi dengan pihak rektorat di dalam Gedung Rektorat setibanya massa Aksi di depan Gedung Rektorat. Beberapa massa berinisiatif melepaskan banner yang terpasang di lantai 2 dan diganti dengan spanduk serta poster berisi tulisan-tulisan yang telah dipersiapkan oleh para massa Aksi, antara lain; “Revolusi Pendidikan”, “Selamat Datang di Kampus Universitas Gudang Masalah”, “Save Bonbin Tolak Relokasi”, “Judicial Review PTN BH”, “AADC? Ada Apa Dengan Corita?”. Kemudian, tenda di depan Gedung Rektrat dipindah bersama-sama oleh beberapa orang ke sebelah barat lapangan Gedung Rektorat. Fatah Yusi dari Fakultas ISIPOL berusaha mengkondisikan massa dengan sindiran konyolnya yang menohok rektorat, kemudian mempersilakan beberapa perwakilan yang telah dipersiapkan untuk melakukan orasi.

Salah satu perwakilan mahasiswa yang berasal dari FISIPOL, berorasi mengenai beberapa ‘kebijakan’ pihak UGM tentang UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang dirasa tidak bijak dan tidak sesuai bagi mahasiswa. Orasi berikutnya datang dari salah satu perwakilan dari Tendik (Tenaga Pendidikan), serta menyerahkan 2 banner berisi tuntutan yang mereka ajukan kepada pihak UGM sendiri. Isi dari orasi Sang Tendik tersebut adalah menuntut pencairan tunjangan kinerja total 20 bulan yang tertahan. Ia juga menyayangkan keputusan rektorat yang hanya menyetujui pencairan tunjangan kinerja tersebut 2 bulan saja. Beliau juga meminta dukungan mahasiswa apabila ada dari Tendik yang mengikuti Aksi hari ini, tiba-tiba dimutasi oleh Pihak UGM. Setelah Tendik berorasi, giliran salah satu perwakilan dari Pedagang Kantin Bonbin mencurahkan uneg-uneg mereka terkait Relokasi Kantin. Waktu berjalan kembali, pukul 11.00 Fatah Yusi memanggil salah satu mahasiswa Sekolah Vokasi bernama Ragil yang sebelumnya menyatakan bahwa orang tua nya dengan terpaksa telah menjual rumah mereka demi membayar UKT. Sangat disayangkan, ia tidak muncul.

Setelah lama menunggu seraya beryel-yel ria, datanglah negosiator membawa hasil negosiasi. Hasil negosiasi dengan pihak rektorat ialah bahwa Bu Rektor Dwikorita Karnawati hanya akan menyatakan pernyataan kepada massa Aksi menggunakan microphone dari selasar Gedung Rektorat, bukan di depan Gedung Rektorat menemui massa Aksi secara langsung seperti yang mereka inginkan. Saat Bu Rektor mulai berbicara mengenai UKT, massa tidak mau mendengarkan karena berharap beliau berbicara seraya menampakkan mukanya.

Saat ditanya mengenai Aksi hari itu, Bu Rektor menjawab “Ke depan mereka ini kan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin DPR, MPR, presiden, menteri. Jadi harus dilatih sejak awal, nah cara latihannya seperti ini. UGM sebagai wahana untuk training, melatih cara berpolitik praktis”. Pihak massa Aksi yang diwakili oleh Humas Aksi, Umar Abdul Aziz kemudian menyakatan “Kami tidak tau, apa yang menjadi dasar rektorat mengatakan ini adalah gladi atau simulasi”. Karena beliau tetap bersikeras pada pendirianya, ada salah satu mahasiswa berbandu merah yang diketahui bernama Joko Susilo dari Fakutas Ilmu Budaya sampai bersujud dihadapannya memohon beliau menemui massa Aksi, beliau kemudian berkata“ Mari kita berdzikir bersama biar hati tenang. Astagfirullahaladzimm”. Berbagai dzikir yng diucapkan oleh Sang Rektor kemudian dibalas oleh massa Aksi dengan mengucapkan “Laailahailallah! Laailahailallah! Laailahailallah!” seraya ada yang menggotong replika keranda mayat berbalut kain hitam bertuliskan “NURANI REKTORAT.”

Beberapa massa berinisiatif untuk menurunkan bendera merah-putih sampai bendera dalam keadaan setengah tiang sebagai tanda berkabung atas pendidikan di UGM yang mengalami berbagai permasalahan. Walaupun telah diminta sedemikian rupa, walaupun massa Aksi telah menunggu selama kurang lebih 2 jam sambil berpanas-panas ria, Sang Ibu dan jajaranya sepertinya lebih senang berbicara di dalam Gedung Rektorat yang dingin dan nyaman. Kata-kata “Ini kan udah selesai. Sekarang kan latihan” merupakan bukti bahwa Sang Rektor masih menganggap Aksi ini sebagai simulasi sebagaimana yang ia sampaikan di Swaragama.fm pada tanggal 1 Mei 2016, yang pada faktanya, Aksi hari itu bukanlah sekedar simulasi. Pembalikan fakta akan Aksi ini terus menyulut keinginan para mahasiswa, pedagang Bonbin, dan Tenaga Pendidik untuk bertemu dengan Sang Rektor.

Akhirnya Prof.Iwan selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan keluar ke depan gedung. Ketika M Ali Zaenal Abidin, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM menggunakan microphone untuk menyampaikan berbagai hal ke massa Aksi, Prof Iwan berlagak ingin meminta microphone tersebut, akan tetapi tidak diindahkan oleh Ali. Akhirnya Pihak Rektorat mengambil microphone yang lain.

Ia menyampaikan beberapa hal, antara lain :
1. Rektor akan menyampaikan 3 statement tentang UKT, Bonbin, dan Tukin.
2. Mahasiswa menyampaikan 3 pertanyaan yang akan dijawab oleh pihak Rektorat, yaitu Rektor dan wakil rektor.
3. Mahasiswa diminta diskusi dengan rektorat melalui perwakilannya.

Pada poin pertama, massa Aksi setuju dengan pernyataan dari Prof.Iwan akan tetapi, pada poin kedua dan ketiga massa Aksi tidak setuju. Saat membacakan 3 pernyataan di atas terdapat scene ketika salah satu mahasiswa memberi caping kepada beliau akan tetapi ditolak. Terdapat juga scene salah satu mahasiswa memayungi beliau dengan payung berwarna merah muda selama pernyataan tersebut disampaikan. Hal-hal kecil diatas seakan memberi rasa geli tersendiri terhadap banyak massa Aksi.

Saat massa menyatakan penolakan perjanjian karena memang tidak puas dengan apa yang diinginkan, Prof Iwan berkata “Berarti kalian tidak percaya pada Ali sebagai negosiator kalian?” dan beliau meminta negosiasi ulang dengan negosiator yang berbeda. Ali kemudian berkata “Jangan mau diadu-domba.” Akan tetapi hal tersebut dirasa sangat tidak memuaskan keinginan massa. Massa berharap untuk bertemu langsung dengan Rektor UGM dan berdiskusi langsung dengan mereka di depan gedung. “Kita disini hingga Rektor menyepakati tuntutan kita, sepakat?” Teriak sang orator. “Sepakat!” Jawab seluruh massa Aksi. Setelah itu, Prof.Iwan masuk kembali ke gedung. Sehingga, keadaan massa Aksi masih menunggu dibawah terik matahari pun berlanjut kembali.

Pemimpin Aksi memutuskan untuk mengistirahatkan massa terlebih dahulu. Saat istirahat tersebut, dimanfaatkkan oleh beberapa massa Aksi mempersiapkan panggung Pesta Rakyat di selasar Gedung Rektorat. Massa juga telah disediakan fasilitas oleh UKM Kerohanian Islam Jamaah Salahudin (JS) agar dapat menunaikan sholat Dzuhur di selasar tersebut. Massa Aksi juga telah disediakan Tenda Medis bagi yang merasa tidak sehat dan haus yang didirikan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran di bagian timur gedung.

Sesi istirahat yang dimulai pukul 12:30 hingga 13:30. Massa Aksi berangsur mulai kembali ke area Aksi di selasar gedung Rektorat. Di sana, massa Aksi disambut dengan beberapa penampilan seperti drama komedi, puisi, nyinden, ceramah, dan stand up comedy. Penampilan-penampilan yang disajikan atas inisiasi dari para mahasiswa ini dilakukanuntuk memeriahkan PESTA RAKYAT yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Rektorat atas berbagai permasalahan yang terjadi di UGM.

Massa keluar dari selasar ke lapangan karena syarat dari Ibu Rektor yang menyatakan bahwa beliau tidak akan turun jika masih ada satu mahasiswa yang ada di selasar gedung. Pukul 14:50, Ibu Rektor beserta jajarnya akhirnya keluar dari kantornya melalui pintu barat dan langsung menuju ke tengah lapangan yang dipenuhi oleh atribut Aksi. Beliau beserta jajarannya langsung menaikkan Bendera Merah Putih kembali ke atas tiang yang sebelumnya diatur berkibar setengah tiang oleh massa Aksi seraya mengajak massa Aksi menyanyikan Lagu Indonesia Raya sambil berlagak bagai dirijen. Seperti yang dapat diperkirakan, tidak ada satupun massa Aksi yang mau menyanyikanya. Ketika Rektor berjalan kembali menuju depan Gedung Rektorat, massa cepat-cepat menghentikan beliau sambil ada beberapa massa yang menurunkan lagi bendera merah-putih sehingga menjadi setengah tiang lagi. Massa juga menyerukan

“Siapa yang bilang ini simulasi Aksi,
Siapa yang bialng ini simulasi Aksi,
Yang bilang ini ini simulasi Aksi,
Itu orang yang ga punya hati“.

Sekitar pukul 15:00 setelah sebelumnya terhadang massa, Rektor dan jajaranya berhasil menempatkan diri di tengah massa Aksi di depan gedung. Salah satu Humas ‘simulasi’ Aksi kemudian membacakan tuntutan yang ditanggapi oleh Bu Rektor sebegai berikut:

1. Pada tanggal 28 April 2016, UGM telah mengadakan rapat dan memutuskan bahwa UKT tahun 2016 akan sama seperti tahun lalu.
2. Pada tanggal 26 April UGM mengadakan rapat DIKTI. Pada tanggal 28 April 2016, UGM mengadakan pertemuan dengan Tenaga Pendidik bahwa agar tunjangan kinerja dapat diperjuangkan, peraturan harus diubah terlebih dahulu agar tidak dianggap ilegal.
3. Bulan Juli tahun lalu kontrak pedagang Kantin Bonbin selesai, sehingga setelah itu para pedagang yang berdagang di sana termasuk tindakan ilegal.

Ini pernyataan tepat dan lengkapnya :

“Diskusi berkali-kali. Kamis, 28 April keputusan berdasarkan seluruh pasukan civitas akademik dan mahasiswa UKT tetap.””Berdasar rapat dikti, 26 April sudah disosialisasikan. Tanggal 28 April mengundang pendidik bahwa tunjangan kinerja di perjuangkan dengan mengubah peraturannya.” “Terimakasih adik-adik yang saya cintai, diskusi dialog yang berkali-kali dilakukan sejak februari ini telah memutuskan pada kmis 28 April, UKT berdasarkan seluruh masukan dari civitas akademika terutama mahasiswa dan dekanat, yaitu UKT kita tetap seperti tahun lalu. Untuk tenaga kependidikan, berdasarkan rapat dikti 26 April sudah disosialisasikan. Kami sampaikan kepada mas-mas tenaga kependidikan tanggal 28 April mengundang para tenaga kependidikan dan sampaikan bahwa tunjangan kinerja tetap diperjuangkan dengan cara mengubah peraturannya, kalau tidak diubah maka melanggar aturan negara untuk menurunkan tunjangan kinerja” “Yang terakhir tentang kantin. Maaf jangan dikatakan bonbin. Kita sudah berdoalog sejak tahun lalu. Dikala kontrak kantin sudah berlalu. Artinya sejak juli sudah ilegal. Melanggar rasa kemanusiaan.”

Saat statement “kami mengijinkan mereka masih berdagang atas dasar KEMANUSIAAN”, ada salah satu mahasiswa yang melakukan hal yang dianggap kelewatan dan banyak dari massa yang merasa bahwa alasan tersebut terlalu ‘simpatik’ sehingga mereka berseru “Huuu” dan saat mendengar kata ‘ilegal’, massa serempak membalikkan badan membelakangi Jajaran Rektorat.Sang Rektor yang merasa tidak dihargai, microphone berpindah tangan ke ibu-ibu yang berada disampingnya yang kemudian ia berkata “Nggak sopan!” dengan raut muka kesal.Bu Rektor beserta jajarannya berbalik badan dan meninggalkan massa Aksi kemudian mengunci diri di ruangannya dan tidak mau menemui massa Aksi.

Karena dianggap penjelasan yang diberikan belum selesai, massa Aksi geram kemudian berbondong-bondong ikut masuk ke Gedung Rektorat seraya menyanyikan lagu perjuangan. Hanya 5 mahasiswa yang berhasil bergerak hinggal lantai 2 Gedung Rektorat dikarenakan tangga akses menuju ke lantai 2 diblokade oleh SKKK.
Sembari menunggu Rektor menemui kembali massa Aksi, berlangsung konferensi pers berkenaan dengan keterangan ibu rektor kemarin dan penyuaraan tuntutan hari ini.Para penggerak Aksi meminta massa beryel-yel dan menghimbau untuk meninggalkan embel-embel golongan, organisasi, serta pandangan politiknya dengan tujuan “Tunjukkan bahwa kita disini bersama-sama, kita bukan mengatasnamakan suatu golongan tertentu akan tetapi kita disini mengatasnamakan RAKYAT. Kita bukan pengemis, kita hanya menuntut apa yang menjadi hak kita dipenuhi”.

Orator di depan juga menginstruksiakan kepada masa Aksi untuk memfoto dan membuat caption yang relevan terkait Aksi masa yang sedang terjadi. Hal ini tidak lain untuk mengundang masa Aksi yang lebih banyak lagi, serta mencoba membuat framing yang lebih berimbang tentang pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Nyatanya ini efektif karena semakin sore masa Aksi semakin banyak. Hashtag seperti #bUKTicinta #inibukansimulasi #pestarakyat malang-melintang menghiasi berbagai sosial media.

Pada pukul 16:30 Hingga pada sore hari ini mahasiswa tetap enggan untuk mengangkatkan kakinya dari Gedung Rektorat. Berbagai cara telah dilakukan para mahasiswa untuk membujuk Ibu Dwikorita keluar dari ruangannya setelah tadi sempat beranjak dari kursi nyamannya. Mahasiswa masih terbakar semangatnya dan tak gentar untuk tetap menunggu Ibu Pemimpin “Simulasi” menemui mahasiswa walau aparat sudah berjaga-jaga sejak lama.

Sekitar pukul 5 sore, Ibu Rektor beserta jajarannya akhirnya mau keluar lagi setelah negosiasi ulang. Mereka duduk di tangga depan Gedung Rektorat. Massa sebelumnya sudah diminta oleh Mas Ali untuk berjanji bahwa massa akan mendengarkan perkataan Bu Rektor sampai selesai dan tidak akan menyela. Persyratan itu kemudian disetujui oleh massa Aksi. Tuntutan kepada Rektorat kemudian dibacakan oleh Umar Abdul Aziz secara beruntut.

Pertama, dibacakan tuntutan terkait Uang Kuliah Tunggal dan Bu Rektor diminta langsung menjawab. Akan tetapi karena dirasa Bu Rektor melewati beberapa poin dari tuntutan, maka tuntutan yang dilewati tadi dibacakan kembali. Begitu terus sampai semua tuntutan yang terkait dengan UKT disanggupi oleh Bu Rektor.

Kedua, dibacakan tuntutan terkait Tunjangan Kinerja Tenaga Pendidikan yang juga langsung dijawab oleh Bu Rektor atas permintaan massa Aksi. Akan tetapi, mahasiswa belum puas dengan jawaban beliau karena dalam pernyataan beliau terdapat sebuah statement yang perlu digarisbawahi yaitu bahwa tunjangan yang akan dibayar adalah sebanyak 2 bulan dikarenakan dalam prosesnya sudah berganti peraturan yang mengatur tentang Tukin tersebut.

Ketiga, dibacakan tuntutan terkait Relokasi Kantin Sos-Hum (Bonbin). Bu Rektor langsung menjawab. Sampai sekarang ini masih baik-baik saja situasinya. Sampai ada sebuah statement yang memancing salah satu massa berucap “mahasiswa yang mana?” yaitu saat statement bahwa pihak Rektorat sudah sering melakukan berbagai pertemuan yang membahas tentang Bonbin dengan pihak pedagang juga tak lupa dari mahasiswa dilontarkan.
Inilah kalimat tepat dan lengkapnya dari jawaban Rektor : 1. “Kenaikan UKT: 28 april rektor bersama pimpinan fakultas dan beberapa komponen termasuk mahasiswa telah sepakat UKT tahun ini tetap.” – Bu Dwikorita 2.

“Penurunan UKT: Para dekan sudah sepakat waktu 28 april itu bagi tidak pas bisa mengusulkan penurunan ukt dan tahun lalu sudah ada yang diturunkan. Penurunan tergantung pada kondisi mahasiswa, baik penurunan secara temporal maupun permanen” – Bu Dwi “PPA akan ada ketentuan baru bahawa semua PTN tidak lagi menerima PPA” – Pak Iwan 3. “Mengenai Tukin: Dalam arapat dan koordinasi semua perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang melibatkan kementerian pada 26 April yg lalu telah diusulkan adanya perubahan peraturan pemerintah. Kita sedang berjuang bersama dengan PTNBH yang lain untuk merevisi PP agar PTNBH memperoleh untuk menerima tunjangan kinerja karena klo aturannya di revisi, saya melanggar.”

Bu Rektor ditanya kembali mengenai tuntutan pencabutan Surat Perintah 2 dan soal klarifikasi bahwa hari ini adalah AKSI bukan simulasi Aksi, Rektor UGM enggan minta maaf atas pernyataannya yang menyebut Aksi hari ini hanyalah simulasi. “Terimakasih banyak ya, sudah bersabar, nah sekarang selamat beristirahat keluarga menunggu dirumah,” ungkapnya saat menanggapi tuntutan minta maaf itu.Rektor yang akan meninggalkan lokasi Aksi diteriaki, ‘jangan kabur-jangan kabur.’ Mahasiswa mengejar Rektor hingga halaman tengah kompleks Balairung. Mahasiswa terus mengepung bahkan membuat barikade agar Rektor tidak pergi.

Rektor UGM sebenarnya sudah akan masuk ke mobil. Massa mereda saat Rektor berhasil diberhentikan dan mau melanjutkan dialog. ‘Diskusi’ pun berlanjut, mahasiswa meminta klarifikasi dari Bu Rektor mengenai pernyataan “simulasi Aksi”.

Rektor : “Sebagai orang yang lama bergelut dalam penanganan bencana, saya paham bahwa semua hal perlu geladi. Demo kali ini disebutnya sebagai persiapan dalam kehidupan berdemokrasi membangun negeri. Saya udah pengalaman dalam mengurus bencana alam. Ini jadi latihan bagi kita semua baik itu pimpinan universitas, SKK dan tak terkecuali kalian” (Sebetulnya kalimat yang dikatakan banyak, akan tetapi jawabannya intinya sama, ga sesuai harapan).

Umar : “Ibu pasti bisa membedakan mana latihan evakuasi bencana dan evakuasi beneran. Begitu juga Aksi ini Ibu juga pasti bisa membedakan. Apakah Ibu tidak mau cabut pernyataan? Apa ibu tidak menyesal?”

Rektor: “Sudahlah ini jadi latihan bagi kita semua. Mari kita saling ikhlas. Kalian ga perlu minta maaf ke saya, mari kita saling memaafkan”. (emang kami minta maaf? Kan kami ga salah. Yg salah kan cuma rektorat)

Pernyataan tersebut membuat mahasiswa kembali memanas.Petugas keamanan kampus, langsung mengevakuasi Rektor naik ke lantai atas kompleks Balairung. Mahasiswa terus berteriak, ‘jangan kabur.’ Saat naik ke lantai atas dan banyak mahasiswa yang tetap mengejar naik. Sementara yang lain berada di bawah.Setelah itu, mahasiswa kembali ke depan gedung dan memberi penerangan seadanya dengan menyalakan lampu minyak.Sebetulnya Aksi belum selesai, akan tetapi massa menganggap hasil yang didapat cukup memuaskan.Kemudian, Rektor beserta jajarannya meninggalkan gedung diiringi dengan lagu Sayonara oleh mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *