Home » Kajian Pergerakan Mahasiswa » Advokasi » TUNTUTAN DAN ASPIRASI 60 TAHUN DIES NATALIS FMIPA UGM

TUNTUTAN DAN ASPIRASI 60 TAHUN DIES NATALIS FMIPA UGM

-Sebuah harapan untuk MIPA yang kami banggakan-

Sudah 60 tahun berlalu sejak Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM resmi berdiri. Pembangunan dan pengembangan kampus baik secara fisik maupun nonfisik pun jelas terlihat hingga sekarang. FMIPA terus berkembang menuju perubahan yang baik diiringi kebijakan dan pemangkunya yang tentu rutin berganti. Namun, seringkali kebijakan yang dikeluarkan dalam keadaan tertentu justru merugikan mahasiswa.

Pertama, tentang parameter penentuan nominal UKT yang hanya memperhitungkan gaji kotor tanpa melihat tanggungan keluarganya. Menurut hemat kami, tanggungan adalah parameter yang krusial dan penting untuk dimasukkan dalam penentuan UKT. Sebagai contoh, orang tua yang sama-sama berpenghasilan Rp. 2.000.000,00 per bulan, namun, keluarga pertama memiliki dua anak dan keluarga kedua memiliki enam anak yang selisih usia mereka berdekatan (masih berada di usia sekolah semua). Tentu saja jika diberikan range UKT yang sama akan menimbulkan ketidakadilan terhadap keluarga kedua.

Kedua, masalah skema penyesuaian UKT. Di FMIPA kebijakan penyesuaian UKT sangat tidak jelas pelaksanaanya. Ketidakjelasan kriteria dan proses seleksi membuat para mahasiswa yang secara penghasilan orang tua seharusnya berhak turun UKT-nya, kesulitan untuk memperoleh haknya. Ketika kami menanyakan perihal adanya skema penurunan UKT (layaknya di fakultas Psikologi) pihak FMIPA selalu menjawab tidak ada. Jawaban ini dilandaskan kekhawatiran Dekanat terhadap penyelewengan yang mungkin dilakukan oleh mahasiswa. Namun, bagi kami alasan ini tidak mendasar. Jika mahasiswa mengetahui tentang adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi dan dibuktikan, pasti mereka tidak akan main-main dengan itu.

Ketiga, tentang skema penundaan SPP/UKT pada masa registrasi yang tidak jelas dan tidak transparan. Tidak ada syarat pasti yang dikeluarkan fakultas, tanggal atau timelineyang seringkali berubah, pemberitahuan yang selalu mendadak, serta koordinasi yang buruk antara pihak universitas dan fakultas membuat mahasiswa bingung. Dan kebingungan ini pun berlanjut ketika kami mendengar adanya wacana kebijakan dimana penundaan tidak diberlakukan kembali mulai semester depan. Tentu saja hal ini sangat merugikan pihak mahasiswa yang benar-benar butuh penundaan.

Dalam pandangan kami, penundaan adalah sebuah kesempatan yang diberikan universitas dan fakultas agar mahasiswanya tetap bisa melanjutkan kuliah walau dalam keadaan ekonomi yang buruk. Akankah UGM berniat menutup kesempatan ini? Apakah UGM ingin melihat mahasiswa harus tersendat kuliahnya (cuti) karena tidak mampu membayar ketika di masa-masa registrasi? Faktanya, semester ini banyak mahasiswa yang ‘dipaksa’ cuti karena penundaannya ditolak. Padahal mereka benar-benar belum bisa membayar di saat itu (masa registrasi) bukannya tidak bisa membayar.

Keempat, koordinasi antara universitas, fakultas, dan pihak-pihak lain di UGM masih sangat kacau. Seperti kasus penundaan yang telah disinggung di atas, kemudian tentang penyesuaian UKT mahasiswa baru yang saling lempar antara fakultas, DPP (Direktorat Pendidikan dan Pengajaran), dan Ditkeu (Direktorat Keuangan). Belum lagi adanya hak otonom yang dimiliki beberapa fakultas yang membuat kebijakan Rektor melemah. Dan masih banyak miskomunikasi yang pernah terjadi misalnya tentang syarat pengajuan beasiswa, makrab, dan sebagainya.

Kelima, kami sangat mengapresiasi dan bersyukur dengan direalisasikannya pembangunan gedung C. Meskipun seperti yang kita ketahui bahwa pembangunan ini sedikit banyak menyulitkan teman-teman dari UKM SBA untuk mengadakan latihan akibat lapangan basket yang dibuat menjadi parkiran. Kami mengharapkan adanya niatan baik dari fakultas untuk lebih memperhatikan UKM ini.

Kami paham betul bahwa penentuan berbagai kebijakan ini bukan mutlak ditentukan oleh fakultas, namun universitas bahkan puncaknya adalah pemerintah yang menentukan. Namun, sebagai garda terdekat dari mahasiswa, tentu saja kami berharap banyak kepada fakultas untuk mengapresiasi keluhan kami.

Oleh karena itu, kami atas nama Keluarga Mahasiswa (KM) FMIPA UGM mengajukan tuntutan kepada pihak fakultas yaitu:

  1. Memberikan skema penyesuaian UKT yang jelas dan bijak kepada para mahasiswa
  2. Memasukkan tanggungan menjadi parameter penentuan UKT
  3. Tidak menghapuskan penundaan UKT/SPP
  4. Mekanisme penundaan diperjelas dan diperbaiki termasuk timeline yang sering mendadak
  5. Kejelasan pembayaran kuliah lapangan untuk mahasiswa Geofisika apakah termasuk dalam UKT atau tidak
  6. Koordinasi antara universitas, fakultas, jurusan, dan direktorat di UGM harus diperbaiki, diperjelas, dan dipertegas
  7. Memberikan kejelasan terhadap SBA dan mahasiswa MIPA tentang lokasi parkir setelah gedung C selesai dibangun bulan Desember 2015.
  8. Memberikan kepastian perbaikan lapangan basket pasca dijadikan lapangan parkir.

Selain delapan tuntutan tersebut, demi turut berpartisipasi dalam momentum Dies Natalis FMIPA UGM ini, kami KM FMIPA UGM memberikan saran untuk MIPA yang lebih baik yaitu :

  1. Memberikan batasan zona merokok di kampus
  2. Mempertegas alur dan aturan parkir baik di kampus selatan maupun utara. Terutama aturan parkir di lapangan basket hingga jam 16.00 WIB.
  3. Meningkatkan pelayanan akademik maupun nonakademik termasuk penjelasan tentang fasilitas SIC.
  4. Memberikan apresiasi terkait pengembangan prestasi mahasiswa MIPA terutama di bidang olahraga dan seni, bukan hanya akademik.
  5. Memasang himbauan untuk menjaga lingkungan kampus agar senantiasa bersih dan hijau secara fisik dan nonfisik.

Demikian rilis ini dibuat tak lain tak bukan adalah untuk menjaga dan mendukung perkembangan FMIPA UGM tercinta agar menjadi kampus yang benar-benar layak kami banggakan.

Atas nama,

Keluarga Mahasiswa

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *