Home » Kajian Pergerakan Mahasiswa » Advokasi » TEORI YANG TERUS MEMBUDAYA

TEORI YANG TERUS MEMBUDAYA

lOleh Hasti Unggul P. Saya baru saja terbangun, entahlah tiba-tiba tidak bisa memejam lagi. Tinggal menuju fajar menyongsong sambil memikirkan banyak hal seputar kampus. Tentang organisasi yang sepertinya masih berumur jagung karena terus melalui tahap pencarian jati diri, akademik yang baru saja menghantam sisi terdalam nurani, tapi sudahlah sedang ingin membicarakan persoalan yang pertama.

Sebagai mahasiswa MIPA yang biasa saja, saya cukup mengenal kampus yang digadang-gadang akan melahirkan banyak ilmuwan sebab sejak awal masa orientasi selalu saja hanya benih kasus ilmuwan yang disajikan. MIPA adalah kampus yang sangat ramai, tiap sudut selalu ada gerombolan dan beberapa anak sedang bertukar penyelesaian rumus, reaksi ataupun aliran arus. Tidak cukup hanya itu, MIPA juga ramai saat acara bertemakan Nasional dan seputar ilmu pengetahuan. Bangga rasanya memiliki euforia kampus yang dipenuhi calon Ilmuwan negeri ini.

Dulu saat pertama kali masuk, saya sempat mendengar sebutan “Kampus Pesantren” untuk MIPA. Pendek kata, saya mengira karena gedungnya yang mungkin akan masuk barisan museum berharga di Indonesia. Tapi, sekarang saya tidak menemukan lagi seolah sebutan itu sedang mengudara saat Pesantren beralih menjadi Teori Paten. Sebab terkadang ada beberapa keresahan yang sampai detik saya menulis ini belum sanggup terpecahkan. Ceritanya, ada dua organisasi di MIPA yang terlihat sebagai Koordinator yang tugasnya mengharmoniskan atau lebih tepatnya memperjuangkan dan minimal menyampaikan aspirasi mahasiswa MIPA ke pihak yang berwenang.

Secara terlihat kasap mata, dua organisasi ini ternyata memiliki kekurangan menggiring mahasiswa MIPA untuk berpartisipasi dan minimal ikut serta dalam setiap acara yang diadakannya. Diperlukan publikasi ekstra keras bahkan tuntutan wajib ikut meski undangan formal nyaris selalu tak pernah absen disebar hanya untuk dapat membuat setiap apapun yang diselenggarakannya menjadi ramai. Setelah dianalisis, sebenarnya bukan fungsi utama saat koordinator terlalu sibuk bahkan ngotot menyelenggarakan acara walaupun sesekali dibutuhkan setidaknya bertujuan untuk mengetahui, mewadahi dan menjaring suara anak MIPA.

Ada lagi yang unik, ketika diskusi bahkan evaluasi terkait kinerja koordinator justru sepi pengunjung dan nyaris tidak ada kritik dan saran yang berarti apalagi tujuannya memperbaiki. Lembaga ini selalu dinilai stagnan dan miskin inovasi, sebaliknya akan dinilai berhasil saat aspirasi MIPA yang sifatnya universal dan syah menjadi kepentingan seluruh mahasiswa berhasil direalisasikan meski perjuangannya minim dukungan.

Akhir-akhir ini terdengar wejangan bahwa koordinator sedang kehilangan tujuannya, keduanya sama-sama belum mengerti tugas dan fungsinya bagi MIPA. Tapi, tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi sebab kepedulian MIPA akan masa depan koordinator nyatanya sangatlah kurang. Bagaimana tidak, dengan fungsi dan kadar keberhasilan yang bisa dibilang tidak mudah untuk tercapai, justru membuatnya tak henti mencari cara agar minimal dipertahankan keberadaannya. Sibuk beradu alasan, mengakui sedikit banyak kesalahan, tapi setelahnya hanya terus diulang dan tak ada perubahan sebab takut kena semprot senior yang “katanya” telah susah payah memperjuangkan.

Tak ada resolusi yang menawan untuk tahun ini, semuanya biasa seperti keberadaan saya di kampus MIPA. Pantaslah saat akhirnya beberapa kali digoncang karena kurang kerjaan yang tidak ramah lingkungan. Menempel banyak kertas yang dianggap masalah besar sebab menghabiskan stok pohon untuk ditebang. Padahal tanpa kertas, mungkin sejak dulu tak kan ada perlawanan yang diakui atau tidak, berhasil memberikan perubahan dan keberhasilan memperjuangkan aspirasi. Saat asyik membuat cibiran, dalam diam mengapa tak bubarkan saja pabrik kertas? Kemudian selesai.

Dalam sebuah perenungan, saya menemukan beberapa titik perhelatan perang batin. MIPA cenderung kurang tertarik dengan diskusi masalah negeri sebab outputnya selalu tidak memberi kejelasan. MIPA ramai dengan kontroversi, masalah teori yang mengundang lantas memancing pengunjung sosial media berdebat kusir dan itu saja, ekspektasi MIPA akan keberhasilan lembaga yang dianggap menjadi Koordinator jarang diimbangi dengan partisipasi berupa dukungan ide, gagasan bahkan pengajuan kritik yang disertai saran untuk terwujudnya perubahan atas nama saling bekerja memperjuangkan aspirasi dan perbaikan seputar sistem akademik, birokrasi serta layanan fasilitas yang menjadi sebuah keluhan atau sepatutnya disempurnakan.

Pasti akan ada orang yang selalu menyatakan setiap orang punya cara masing-masing untuk berkontribusi dan menyalurkan harapan untuk kebaikan. Dan banyak dari mereka hanya sibuk terus mencibir dan tidak diimbangi dengan solusi yang minimal ditawarkan. Setelah menulis, saya memimpikan andai setiap memperjuangkan dan proses advokasi aspirasi MIPA seramai saat tiap Jurusan saling adu kekuatan suporteran. Semoga~

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *