Home » Kajian Pergerakan Mahasiswa » Advokasi » [Press Release] Problematika Jalan Sains

[Press Release] Problematika Jalan Sains

Pertambahan jumlah kendaraan di wilayah kampus Universitas Gadjah Mada dari tahun ke tahun semakin membludak. Pada tahun 2011, Rektorat UGM melarang seluruh mahasiswa baru angkatan 2011 untuk membawa kendaraan bermotor ke dalam lingkungan kampus UGM. Hal tersebut dikuatkan dengan tanda tangan bermaterai sebagai syarat registrasi mahasiswa baru UGM. Akan tetapi, peraturan tersebut ternyata tidak ditindaklanjuti dengan pengawasan yang ketat dari pihak Rektorat UGM. Terbukti berselang 3 tahun sejak dikeluarkannya kebijakan tersebut, jumlah mahasiswa yang menggunakan kendaraan mobil dan motor di wilayah UGM semakin tak terbendung.

UGM mengalami pergeseran kelas menjadi kelas menengah ke atas. Hal ini terlihat dari semakin bertambahnya volume kendaraan di lingkungan Kampus Gadjah Mada. Pihak rektorat pun mulai membuka lahan parkir baru bagi kendaraan-kendaraan bermotor. Akan tetapi hal ini tidak diiringi dengan penambahan lahan parkir bagi kendaraan mobil. Akibatnya, mobil-mobil membludak hingga parkir ke jalan-jalan umum dan Jalan Sains adalah salah satunya.

***

Problematika Jalan Sains

Jalan Sains merupakan jalan yang memisahkan antara Fakultas MIPA dengan Fakultas Kedokteran. Jalan Sains juga menghubungkan antara Jalan kaliurang dengan Jalan Kesehatan (di depan RSUP Dr. Sardjito). Letaknya yang berada di depan Rumah Sakit menjadikan Jalan Sains dapat diakses tidak hanya oleh civitas akademika UGM tetapi juga masyarakat umum. Akibatnya Jalan Sains pun semakin ramai.

Jalan Sains sendiri memiliki lebar ± 8,4 m dengan fasilitas jalur sepeda di kedua sisinya. Satu jalur sepeda lebarnya 1,0 m. Artinya, 2,0 m digunakan untuk kedua jalur sepeda. Dengan demikian, lebar jalan yang tersedia untuk lalu-lalang kendaraan bermotor seharusnya ± 6,4 m. Sayangnya, tidak sedikit yang memarkirkan kendaraannya di sepanjang Jalan Sains. Hal tersebut mengakibatkan jalan yang tersedia untuk lalu-lalang kendaraan pun tak selebar yang semestinya.

Anggap satu mobil memerlukan lebar 1,6 m. Jika mobil tersebut diparkir pada kedua sisi jalan, artinya mobil tersebut telah memakai 3,2 m lebar jalan. Jalan yang tersedia pun tinggal 5,2 m. Ini artinya, jika dua mobil berpapasan melewatinya, maka hanya akan tersisa 2,0 m saja.

Jalan yang sempit tadi dapat mengakibatkan banyak kerugian. Seperti pemandangan mobil berjejer yang kurang sedap dipandang, terganggunya kenyamanan berkendara, tertutupnya jalur sepeda, dan resiko kecelakaan yang tinggi.

Untuk menganalisis tanggapan mahasiswa mengenai problematika ini, kami telah membagikan kuisioner yang disebar ke tujuh fakultas di sekitar Jalan Sains: Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, MIPA, Biologi, Geografi, dan Teknik.

Hasilnya sebanyak 63,08% responden merasa terganggu dan sisanya 36,92% merasa tidak terganggu. Serta sebanyak 63,2% responden menjawab tidak boleh parkir, sedangkan 36,8% lainnya membolehkan. Terdapat perbedaan persentase sekitar 0,12% antara pertanyaan yang satu dengan yang lainnya. Ini berarti sebagian responden yang tidak terganggu meyakini bahwa parkir di Jalan Sains itu memang tidak diperbolehkan.

***

Siapa yang Parkir?

Setelah mengetahui “apa”, manusia secara alamiah akan bertanya “siapa”. Dalam hal ini, “Siapa yang parkir?”. Saling tuduh pun terjadi. Fakultas MIPA menuduh Fakultas Kedokteran, sedangkan Fakultas Kedokteran menuduh pengunjung RSUP Dr. Sardjito. Dan saling tuduh ini pun berakhir pada pengunjung RSUP Dr. Sardjito.

Ada dua kemungkinan alasan para pengunjung RSUP Dr. Sardjito tersebut parkir di Jalan Sains: (1) Parkiran di RSUP Dr. Sardjito penuh, dan (2) Malas. Adapun untuk mencari tahu alasannya, kami telah meninjau langsung situasi manajemen dan lahan parkir di RSUP Dr. Sardjito.

Manajemen parkir RSUP Dr. Sardjito dikelola oleh Java Parking Management. Menurut Sutaryanto, staff Java parking Management, RSUP Dr. Sardjito memiliki fasilitas gedung parkir bagi kendaraan roda empat dengan kapasitas sekitar 500-600 unit. Gedung tersebut terdiri dari tiga lantai. Lantai satu ditujukan khusus untuk mobil ambulance dan mobil dinas, sedangkan sisanya, dua lantai, dipergunakan untuk umum (baik itu dokter, pasien, residence maupun karyawan).

image

image

image

Sutaryanto sendiri mengakui bahwa fasilitas yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan pengunjung. Ditambah, baru-baru ini RSUP Dr. Sardjito sedang melakukan proyek pembangunan gedung Kanker Internasional. Ini berarti banyak mobil-mobil besar keluar-masuk rumah sakit yang semakin mengurangi kapasitas parkir disana. Parkir liar pun tidak dapat dihindari. Namun, Sutaryanto menegaskan bahwa parkir liar di sekitar RSUP Dr. Sardjito adalah diluar tanggung jawab Java Parkir Management.

***

Dasar Hukum

Menurut surat edaran nomor 0242/Dir-PPA/Sarana/2014 tentang Penggunaan parkir Bersama, tidak disediakan lahan parkir mobil bagi semua mahasiswa Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, LPPT, Lab. Bahasa, dan PSLH. Pelarangan tersebut bertujuan untuk mewujudkan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan nyaman serta mengatasi keterbatasan lahan parkir mobil di Universitas Gadjah Mada. Surat edaran tersebut juga memberitahukan agar memarkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan serta memberikan prioritas bagi pesepeda. Ini berarti tak ada alasan bagi mahasiswa Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi untuk parkir di Jalan Sains.

image

Jalan Sains bukan tempat yang disediakan Universitas sebagai lahan parkir. Bahkan Dr. Noorhadi, kepala SKKK UGM, melalui pesan singkat mengancam akan melakukan penggembosan pada siapa saja yang parkir di Jalan Sains. Dengan kata lain, tak peduli siapa yang parkir, jika parkir di Jalan Sains, ITU SALAH!

***

Normalisasi Fungsi Jalan Sains

Departemen Advokasi BEM KM FMIPA UGM setidaknya telah 8 kali mencoba untuk mengembalikan fungsi jalan sains sebagai tempat mobilitas kendaraan yang nyaman, dengan menempel tulisan dan sindiran, baik dikaca mobil-mobil yang parkir, di pagar, serta pepohonan di sepanjang jalan Sains.

1] Aksi pertama, dilakukan sekitar bulan November 2013, dengan menempel tulisan berupa himbauan (agar tidak parkir di Jalan Sains) dikaca mobil. Aksi ini sempat menggemparkan media sosial untuk sementara. Namun akibat belum adanya tindak lanjut menjadikan aksi ini bagai angin lalu.

2] Langkah gerak Departemen Advokasi BEM KM FMIPA UGM selanjutnya adalah mencari bukti-bukti tentang aturan pelarangan parkir di Jalan Sains dan mewawancarai banyak pihak yang terlibat: Satpam Fakultas Kedokteran dan FMIPA, SKKK Sektor Barat, SKKK Pusat, dan Pak Budi selaku Wakil Rektor Bidang Aset.

Hasilnya, semua pihak mengatakan bahwa Jalan Sains memang bukan tempat parkir, hanya saja banyak hambatan dari SKKK untuk bisa menertibkannya secara langsung pada saat itu. Menurut pengakuan Pak Budi, berdasarkan RIPK UGM memang sebenarnya sudah ada solusi tentang masalah Jalan Sains ini yaitu menggunakan Hutan Biologi sebagai lahan parkir, namun sampai sekarang Fakultas Biologi belum menyetujuinya. Hal tersebut dikarenakan Hutan Biologi merupakan pusat kegiatan dan penelitian bagi mahasiswa Fakultas Biologi. Beliau juga menegaskan bahwa pihak UGM tidak akan menambah jumlah kantong parkir lagi karena jika terus ditambah maka jumlah kendaraan pun pasti akan terus meningkat.

3] Semakin banyaknya keluhan dari mahasiswa, dosen, serta karyawan terhadap kenyamanan berkendara di Jalan Sains, maka dilakukanlah aksi selanjutnya. Aksi selanjutnya yaitu melakukan Riset di 7 Fakultas di sekitar Jalan Sains: Kedokteran, MIPA, Farmasi, Kedokteran Gigi, Teknik, Geografi, dan Biologi. Dimana seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sebanyak 63,2% responden menjawab tidak boleh parkir di Jalan Sains dan sisanya 36,8% memperbolehkan.

4] Dari hasil riset itu pun, gerak Departemen Advokasi BEM KM FMIPA UGM pun semakin kuat dalam mengembalikan fungsi Jalan Sains. Maka pada tanggal 2 September 2014, kami mencoba cara lain yaitu dengan menempel tulisan berupa himbauan (lagi) di pagar dan pepohonan di sepanjang Jalan Sains. Namun hasilnya sama sekali tidak berpengaruh.

5] Selanjutnya, pada tanggal 8 sampai dengan 10 September 2014, kami memutuskan untuk kembali menempel tulisan himbauan di kaca mobil yang parkir di sepanjang Jalan Sains. Walaupun aksi selama 3 hari berturut-turut tadi dapat mengurangi jumlah mobil yang parkir, namun tidak serta merta menjadikan Jalan Sains benar-benar bersih. Hasilnya, pada hari pertama terdapat 120 mobil yang parkir, pada hari kedua terdapat 110 mobil, dan pada hari ke tiga menurun menjadi 77 mobil saja.

6] Dengan pengurangan volume kendaraan yang tidak begitu signifikan, akhirnya pada hari berikutnya himbauan kami pun berubah menjadi semacam ancaman penggembosan—dengan dukungan SKKK—serta pencatatan plate number dan jenis mobil yang parkir di Jalan Sains. Alhasil, pada hari keempat, 11 September 2014, sedikitnya ada 2 mobil—yang pada hari sebelumnya parkir—digembosi akibat masih parkir di Jalan Sains. Kendati demikian, saat hari penggembosan dilakukan, jumlah mobil yang masih parkir ada sekitar 70-an mobil. Maka (pada hari yang sama) kami memutuskan untuk kembali menempelkan tulisan himbauan ancaman penggembosan pada 70-an mobil tadi.

image

7] Puncaknya pada hari kelima. Pada hari Jumat, 12 September 2014, Jalan Sains telah bersih dari kendaraan yang parkir liar. Jalan Sains telah kembali kepada fungsi awalnya.

image

Serangkaian aksi di atas bertujuan untuk memperjuangkan hak pengguna jalan serta kenyamanan  berkendara di  Jalan Sains,  khususnya bagi mahasiswa UGM.  Seperti  yang sudah dipaparkan sebelumnya, sebanyak 63,08% dari 444 mahasiswa merasa terganggu.

Harapannya, Jalan Sains akan selalu bersih dari semua kendaraan yang parkir liar dan hanya difungsikan sebagai jalur lewatnya berbagai kendaraan. Karena biar bagaimana pun juga Jalan Sains memang bukan tempat parkir!”. Oleh karena itu, agar dapat terus mempertahankan kondisi seperti ini, maka sangat dibutuhkan dukungan dan keterlibatan banyak pihak untuk selalu mengkondusifkan Jalan Sains.

© Departemen Advokasi | BEM KM FMIPA UGM 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *