Menulis Sebagai Bagian dari Pergerakan Mahasiswa

  • 0

Menulis Sebagai Bagian dari Pergerakan Mahasiswa

Category : Advokasi , Tak Berkategori

“Jika suaraku hanya getarkan tirani, maka tulisanku bisa hancurkan tirani”

-Anonim-

 

Tulisan sebagai curahan ide-ide kaum intelektual merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia pergerakan. Sejarah perjuangan bangsa ini tak terlepas dari buah pemikiran kaum intelektual zaman dahulu. Buah pemikiran inilah yang disalurkan lewat tulisan yang masih dapat kita kenang betapa hebatnya dampak dari tulisan-tulisan mereka. Contohnya tulisan Abdul Rivai dalam Koran Bintang Timoer, isinya menelanjangi kebusukan kolonialisme Belanda dan muncul sebagai penyokong pergerakan pemuda Indonesia di Belanda, kemudian tulisan Soewardi Suryaningrat dengan tulisannya “Als ik een Nederlander was” yang memprotes niat pemerintah Hindia Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis, selanjutnya novel “Max Havelaar” menceritakan nasib buruk rakyat yang terjajah karya Multatuli atau lebih dikenal dengan Douwes Dekker. Tulisan-tulisan tersebut merupakan kumpulan ide-ide kaum intelektual yang mendorong negeri ini terbebas dari kesewenang-wenangan. Jika kita ambil sisi lain dari tulisan-tulisan tersebut, selain memperjuangkan ide-ide penulis, tulisan juga memberi kehidupan lain bagi penulisnya sekalipun mereka telah tiada sehingga muncullah adagium “Aku menulis, aku berjuang, aku abadi”. Ide-ide mereka yang tersalur dalam tulisan itu sampai sekarang masih kita gunakan sebagai referensi dalam pergerakan.

Krisis Penulis Muda

Dewasa ini, budaya menulis mulai memudar ditelan oleh pragmatisme kehidupan. Mahasiswa sebagai bagian dari kaum intelektual muda banyak memilih memfokuskan diri meningkatkan nilai akademik saja daripada menulis tentang isu-isu social masyarakat. Memang kewajiban seorang pelajar/mahasiswa adalah belajar dan meningkatkan kualitas akademik diri. Akan tetapi, mahasiswa merupakan bagian dari kategori masyarakat kelas menengah juga harus ikut memikirkan kehidupan rakyat yang sering disiksa oleh kebijakan-kebijakan orang kelas atas (elit-birokrat). Padahal, tulisan-tulisan kaum intelektual muda inilah sebagai motor penggerak perubahan dan penyalur aspirasi rakyat tertindas. Adapun mahasiswa yang sadar dan peduli akan kondisi ini namun sulit untuk menuangkan ide-ide mereka dalam tulisan. Mahasiswa mulai lupa bahwa gagasan dalam tulisan dalam sejarah dapat menumbangkan rezim pemerintah yang sewenang-wenang. Oleh karena itu, intelektualitas mahasiswa jangan hanya dipendam, tetapi dituangkan dengan tulisan, karena intelektualitas kaum muda memiliki keberanian berpihak kepada kebenaran dan mengandung semangat perubahan dan progresivitas.

 

Menumbuhkan budaya menulis sebagai bagian dalam pergerakan mahasiswa

Dalam perspektif sejarah, tak diragukan lagi bahwa tulisan mempunyai kekuatan yang sangat hebat dalam dinamika social-politik di negara ini. Bukan hanya perang fisik saja yang mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan namun, tulisan-tulisan yang tercipta dari pemikiran kaum intelektual bangsa ini juga ikut menumbangkan kesewenang-wenangan kolonialisme dan imperialisme yang membelenggu negeri ini sejak ratusan tahun sebelumnya. Budaya menulis inilah yang harus dikembangkan sebagai salah satu bentuk perjuangan dalam pergerakan mahasiswa. Menulis pun tidak hanya sekedar menulis. Dalam dunia pergerakan mahasiswa, menulis harus memiliki karakter yang jelas sebagai bagian dari perjuangan dan simbol dari pergerakan. Konsekwensinya, tulisan pergerakan harus kritis, aspiratif dan kontributif.


About Author

BEM KM FMIPA UGM

Sebuah Website dari BEM KM FMIPA UGM

Leave a Reply