Home » Kajian Pergerakan Mahasiswa » Advokasi » Mengenal Lebih Jauh Tentang UKT

Mengenal Lebih Jauh Tentang UKT

Apa itu UKT?

Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan sebagian Biaya Kuliah Tunggal (BKT) yang ditanggungkan kepada setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya. BKT merupakan seluruh biaya operasional per mahasiswa per semester pada program studi di perguruan tinggi negeri. UKT adalah BKT yang dikurangi dengan biaya yang ditanggung oleh pemerintah (BOPTN).  Landasan penerapan UKT adalah UU Perguruan Tinggi pasal 88 ayat 5 dan Permendikbud No 55 tahun 2013. Pemilihan level besaran pembayaran UKT disesuaian dengan kadar ekonomi mahasiswa yang diterima, sesuai dengan amanah Permendikbud No 55 tahun 2013 pasal 1 ayat 3.

Mengapa UKT di setiap Fakultas/Prodi Berbeda-Beda?

Pertanyaan yang sering muncul di kalangan mahasiswa adalah mengapa kebijakan UKT disetiap fakultas berbeda-beda? Bukan hanya antarfakultas, namun antarprodi pun juga memiliki perbedaan. Banyak pertimbangan yang mendasari hal ini. Salah satunya adalah besaran kebutuhan tiap-tiap fakultas/prodi. Sebagai contoh UKT di Fakultas MIPA dan klaster sains lain yang memang didesain untuk mendukung kegiatan praktikum baik di laboratorium maupun di lapangan. Bila dibandingkan dengan rumpun Sosio-Humaniora, jelas kebutuhan MIPA jauh lebih besar dikarenakan kebutuhan fasilitas penunjang seperti laboratorium dan alat praktikum yang tidak murah harganya. Namun apakah dengan nominal UKT yang sedemikian besar tersebut fasilitas kuliah akan segera ikut berkembang?

Universitas dan Mahasiswa Sama-Sama Dilema

Perlu kita ketahui, bukan hanya kalangan mahasiswa yang merasa berat dengan UKT ini. Menurut Dekan FMIPA UGM, Bapak Pekik Nurwantoro, pihak universitas dan mahasiswa (orang tua) dihadapkan pada suatu permasalahan. Kedua pihak ini dalam posisi “tidak beruntung”. Pihak universitas mengalami penurunan pemasukan dikarenakan jumlah nominal yang dibayarkan oleh mahasiswa baru dengan sistem UKT jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sistem SPMA. Jika dibandingkan dengan sistem SPMA maka pihak fakultas minimal mendapatkan Rp 5.000.000,00 dari setiap mahasiswa baru. Namun dengan sistem UKT hanya mendapat maksimal (secara garis besar) Rp 5.300.000,00 dari setiap mahasiswa. Dengan perbedaan yang sangat drastis ini tentu pihak fakultas harus berhati-hati dalam mengelola keuangan agar tidak berimbas pada berhentinya program-program yang sudah disusun dan akhirnya merugikan mahasiswa itu sendiri. Jadi tidak mudah untuk pihak dekanat menurunkan UKT mahasiswanya, hanya mahasiswa yang benar-benar terdesak dan membutuhkan yang akan diproses untuk proses penurunan UKT. Dan rumor mengenai anak UM yang UKT-nya benar-benar tidak bisa turun sepertinya tidak harus kita khawatirkan lebih lanjut. Karena sebenarnya UKT mereka bisa saja turun, dengan catatan karena memang sangat tidak sesuai dengan penghasilan orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *