Home » Kajian Pergerakan Mahasiswa » Kajian Strategis » Ekspektasi, Bukan Halusinasi

Ekspektasi, Bukan Halusinasi

Seperti yang kita ketahui, Gedung C menjadi isu yang paling hangat saat ini.  Gedung yang sejak tahun 2011 terbengkalai menjadi lahan kosong ini pembangunannya akhirnya terealisasikan pada bulan Mei 2015.

Jika ditengok ke belakang sesuai dengan perencanaan dari pihak universitas, penataan fakultas-fakultas tersebut dibagi sesuai klasternya. Klaster kesehatan dibangun dalam satu blok, kluster sains satu blok dan sebagainya. Jika dilihat dari hal tersebut, MIPA Selatan (Milan) termasuk di dalam kluster vokasi.

Di sisi lain, banyaknya jumlah mahasiswa MIPA membuat fakultas kita ini kekurangan gedung perkuliahan. Untuk mahasiswa S-1, banyaknya mahasiswa diatasi dengan pengurangan kuota penerimaan mahasiswa. Dari yang tahun lalu menerima mahasiswa sekitar 800, kini tinggal 640 mahasiswa. Sedangkan untuk mahasiswa S-2 dan S-3, pihak fakultas tidak bisa mengendalikan jumlah mahasiswanya.  Sehingga pada tahun 2008-2009, FMIPA membangun gedung S-2 dan S-3 menggunakan dana pribadi dibantu dengan mahasiswa dan dosen. Awalnya, pihak fakultas berusaha untuk memindahkan Milan ke Mipa Utara (MU) dengan konsep yang sama.  Tetapi, karena sistem pembayaran mahasiswa berubah menjadi UKT, skema pemindahan Milan ke MU menjadi drop.

Penghapusan Gedung C dikarenakan aturan apabila dilakukan pembangunan gedung, tempatnya harus jelas dan lahannya harus benar – benar kosong.. “Kami selalu mengajukan tentang gedung C setiap tahunnya dan tidak pernah melupakan pembangunan gedung C ini.  Alasan mengapa gedung ini belum dibangun kembali karena masalah dana, di mana dua tahun lalu kita harus menunggu pembangunan Asrama Sendowo yang sekarang justru terbengkalai dan pembangunan fakultas Geografi tahun lalu” ungkap Bapak Pekik selaku dekan FMIPA.

Setelah melakukan pengajuan dan argumentasi, akhirnya pembangunan FMIPA menjadi prioritas.  Argumen pertama, jika satu simpul terbuka maka simpul lain juga akan terbuka pula. Menurut Bapak Pekik, “Maknanya adalah karena mahasiswa dan dosen MIPA sangat banyak sehingga sangat berpengaruh terhadap padatnya lalu lintas di sekitar perempatan Mirota Kampus.  Oleh karena itu, dengan dipindahnya Milan ke MU maka secara tidak langsung akan mengurangi kepadatan lalu lintas.”  Argumen yang kedua adalah komitmen FMIPA untuk tetap melakukan pembangunan walaupun belum adanya dana.

Pada tahun ini, fakultas Filsafat juga melakukan pembangunan, bersamaan dengan fakultas MIPA.  Dana sebesar 100 miliar dari universitas dialokasikan untuk FMIPA sebanyak 50 miliar, filsafat sebanyak 36 miliar dan 14 miliar sisanya digunakan untuk NMR seluruh prodi yang terkait dengan MIPA.

Pada 09 Maret 2015, turunlah surat rektor tentang pembangunan gedung sekaligus perintah penghapusan gedung. Karena 09 Maret merupakan hari jumat dan dua hari berikutnya libur, barulah di hari senin dapat diselenggarkan rapat koordinasi internal.  Esoknya, pihak dekanat mengadakan rapat bersama BEM, HMEI, HMGF dan KMKATH, selaku himpunan mahasiswa yang terkena dampaknya secara langsung terhadap pembangunan gedung ini.  Mulai tanggal 31 Maret 2015, dilakukan pengosongan gedung B serta ruang sekre HIMA sehingga untuk sementara sekre HMGF dipindah di ruang Dharmawanita di Milan, dan KMKATH di laboratorium Fisika dasar.

Penghapusan Gedung B dikarenakan apabila tidak maka Gedung C akan meabrak gedung B sepanjang 3 meter.  Karena gedung tersebut merupakan aset negara maka penghapusannya harus dengan izin negara. Setelah itu dilakukan pelelangan. Jika proses pelelangan berjalan lancar maka penghapusan sekaligus pembangunan tersebut dapat dimulai pada bulan Mei sampai bulan November, sekitar 7 bulan.  Jika pembangunan mundur dari rencana maka tidak dapat terealisasikan, walaupun dana tersedia.

Mengenai bentuk gedung, pihak fakultas memilih gedung berbentuk huruf  L, bukan huruf T yang awalnya dipilih, mengingat dana yang ada.  Pihak fakultas tidak dapat mengubah rancangan karena jika diubah maka proses pembangunan akan dimulai dari awal dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sedangkan untuk sebagian gedung yang pembangunannya belum terealisasikan, pihak fakultas tetap mengupayakannya dengan dana pribadi maupun bantuan alumni.

Dalam Hearing yang diadakan hari Kamis, disebutkan bahwa gedung C akan diprioritaskan sebagai ruang kuliah. Ruang kuliah yang diperlukan adaah sekitar 20-22 ruang kelas untuk 50-60 mahasiswa dalam tiga tingkat.  Sementara dua tingkat di atasnya akan digunakan untuk unit kemahasiswaan dan JIKE.  Pada Basement, setengah ruangan dimanfaatkan untuk ruang sekretariat UKM dan HIMA, dan setengahnya lagi digunakan untuk parkir. “Separuh bassement tersebut akan dibangun sekre untuk 16 hima walaupun masih kurang 20” ujar Bapak Ari. Setiap ruangan HIMA berukuran sekitar 3,5 X 2,7 meter.  Penempatan ruangan HIMA di Basement mempermudah pemantauan mahasiswa oleh SKKK sehingga keamanan lebih terjamin.

Walaupun dari pihak dekanat tidak dapat 100% yakin bahwa pembangunan gedung tidak akan mengkrak, namun seluruh proses tetap akan dilakukan sehingga pembangunan gedung dapat terealisasikan.

Dalam Hearing tersebut baik bapak Pekik, bapak Khabib maupun bapak Ari, ketiganya sangat menekankan bahwa pembangunan gedung C tersebut bukan merupakan halusinasi belaka karena terdapat surat dan bukti-bukti yang jelas.

Akses keluar masuk alat – alat berat selama pembangunan memang belum dijelaskan, akan tetapi, jam kerja tukang telah diatur oleh pihak pengembang. Karena jika pihak fakultas yang mengatur jam kerja tukang, dikhawatirkan apabila waktu pembangunan tidak sesuai dengan rencana maka pihak fakultas yang disalahkan. Pihak fakultas, dalam kasus ini, sebagai pemberi peringatan kepada pihak pengembang.

Dengan pemusatan kegiatan belajar mengajar di MU, berbagai hal menjadi pertimbangan.  Salah satunya adalah musholla. Karena biasanya saja sudah terasa sempit maka pada gedung yang akan dibangun bisa jadi akan terdapat tempat sebagai mushola. Selain itu, terdapat gagasan tentang pembangunan Selasar Masjid suatu saat nanti yang dapat digunakan untuk sholat dan selain waktu sholat dapat digunakan untuk diskusi atau kegiatan positif lainnya.

Aturan universitas yang mengharuskan semua kegiatan berenti pada jam 9 malam bertujuan untuk menghindari adanya suatu masalah, khususnya kejahatan.  Sehingga, sekre-sekre HIMA ditempatkan di Basement yang tidak terdapat pintu masuk secara langsung ke lantai atasnya agar adanya kemungkinan kehilangan barang di lantai satu sampai lima lebih kecil.  Semua ini demi keamanan kampus agar lebih terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *